Source IG : Dimas Triyana

November Rain in Mt.Salak 2 – Bogor

Sebelum menuju ke Basecamp Siliwangi Adventure, semua personil kelompok trip Hiking ke Puncak Salak 2 kali ini berkumpul di depan stasiun Bogor.  Karena kegiatan masing-masing personil yang berlatar belakang berbeda,  kira-kira baru Pk. 23.00 WIB, semuanya bisa berkumpul, kecuali Saya.

Malam itu semuanya bersemangat menuju basecamp Siliwangi adventure untuk segera mempersiapkan diri beristirahat dan menunggu kedatangan saya ikut bergabung di Base camp.  Tapi malam itu saya putuskan untuk pergi keesokan paginya ke Bogor, karena dimalam itu saya ketingalan KRL terakhir tujuan Bogor dari Stasiun Jakarta-Kota.

Basecamp Siliwangi Adventure berada di Ciapus,  tepat nya dekat SMK Taman Sari Bogor.

Setibanya di BC, teman-teman putri, Wulan dan Nurul, bercengkrama sambil ngopi sampai sedikit lewat tengah malam. Danny dan Glen menghabiskan malam, menikmati keramah tamahan pemilik Basecamp, sambil menunggu pagi dan kedatangan Saya.(= alih-alih buat alasan saja padahal insomnia atau malah sudah jadi Nocturnal, hahaha).

Saya tiba di Basecamp 1 Pk. 09.30 WIB.  Setelah selesai packing dan mendapatkan carteran mobil, Kami semua lanjut menggunakan 1 mobil angkot sewaan ke Pura Ajisaka-Bogor, lalu lanjut berjalan kaki ke basecamp ke 2. Kami menyebutnya Basecamp rumah Abah.  Abah adalah sebutan untuknya, seorang kakek sebagai kuncen makam keramat 3 orang suci : Hyang Prabu Wijaya Kesumah, Hyang Raksa Bumi, dan Eyang Jaya Sakti.

Setibanya di rumah Abah, Danny segera melaporkan tentang niatan kami untuk masuk hutan dan menuju ke Puncak Gunung Salak 2.

Di rumah Abah, sinyal seluler sudah agak susah di dapat. Sinyalnya seperti antara ada dan tiada.

Tapi sebelum kami semua lanjut memasuki hutan, Glen menyampaikan bahwa feeling terhadap stamina dan mood-nya sepertinya kurang mendukung untuk tetap lanjut.  Glen mengusulkan agar bisa dicarikan 1 orang lagi untuk meringankan bawaannya, semacam porter lah.

Agar rencana kelompok tetap bisa berjalan, maka Danny segera berusaha menghubungi beberapa kawannya yg sekiranya bisa segera bergabung bersama kami.  Jujur saja, situasi ini benar-benar bikin saya galau.  Ada rasa bersalah karena saya tidak bisa datang dari semalam, ada kuatir juga jika tidak ada yg bisa segera mendapatkan porter, dan kuatir juga jika trip hiking kali ini dibatalkan sampai disini.  Tik tak tik tak, detik waktu terus berjalan dan kami semua cuma bisa berharap bantuan bisa segera datang mengusir kegalauan dalam pikiran ini.

Tiba-tiba gerimis turun dan bertambah deras.  Waktu menunjukkan Pk. 13:15. mendung diatas kami sepertinya enggan beranjak mengikuti angin.  Hujan yang turun dipenghujung bulan november ini seakan menyampaikan pesan :

So if you want to love me

Then darlin’ don’t refrain

Or I’ll just end up walkin’

In the cold November rain.

Kami saling terdiam diselama hujan yang turun menyusupi rajutan bayangan yang memenuhi imaji masing-masing.

Dan akhirnya mendung pun berlalu menyisakan rintik gerimis.

Hampir bersamaan, yang dinanti pun tiba, namanya Iyan, ia yang datang untuk membantu kami membawakan tas ransel Glen agar tujuan kami bisa tetap dilaksanakan hari ini.

Totalnya kelompok ini menjadi 8 orang.  Kami pun segera mulai melangkahkan kaki memasuki batas hutan, tapi sebelum memasuki hutan, kami singgah sebentar di makam keramat 3 orang suci yang sudah saya sebutkan tadi.  Dimakam keramat itu, ada seekong kucing yang mendekati kami.  Mas Bro memberinya nama, “Wahab”.  Kucing yang bersih dengan hampir seluruh bulunya berwarna putih, hidup ditempat yang basah dan lembab seperti batas hutan kaki gunung Salak ini.

Kami lanjutkan lagi ayunkan kaki menapaki jalan setapak memasuki hutan pinus.

kesegaran buah pinus dan aroma kayu pinus memenuhi rongga dada.  Aku seperti sedang Dejavu.

Dan sampai lah di Pos 1.  Tempat yang sedikit melebar datar di dalam trek, cukup untuk 5 tenda saja.  Usai basahi tenggorokan dan Aku cukup habiskan sebats(hahaha), Kami lanjutkan lagi menaiki jalan setapak yang terbentuk semi alami oleh akar-akar pepohonan disisi kiri dan kanan jalan setapak yang dipijak seperti anak tangga.

Lagi asik-asiknya menikmati trek yang lembah tapi menyegarkan, tiba-tiba gerimis turun lagi dan segera menjadi deras.Waktu menunjukkan sudah jam 3 sore. Kami segera mencari tempat yang agak lapang disisi trek sambil mencari tempat untuk berteduh.  Aku yang membawa Ponco, untuk sementara dijadikan penahan hujan dengan cara dibentangkan diatas kepala kami semua.  Untunglah segera terlihat tempat yang bisa dijadikan untuk berteduh karena agak lapang.

Iyan dan Danny mencoba mencari masuk terus ke dataran atas siapa tau ada area yg lebih baik lagi untuk kami bertahan dari guyuran air hujan yang terasa kian deras dan lebat saja.  Aku keluarkan flysheet dan tali webbing untuk membuat bifak.  Sepuluh menit setelah kepergian Danny dan Iyan, keduanya sudah kembali dan mengatakan tempat yang lebih lapang itu rupanya masih jauh.  Sementara hujan yang turun tidak ada tanda-tanda akan segera berhenti.  Kami sepakat untuk segera stop dan akan lanjutkan besok pagi saja jika cuaca mendukung. Tenda dan perlengkapan untuk camp untuk segera dikeluarkan.  Aku, Glen dan Iyan, bergerak memasang tenda, flysheet dan membuat parit agar tidak kebanjiran.  Danny dan Ulan, mempersiapkan minuman hangat dan persiapan memasak malam ini karena waktunya segera menuju senja yang hitam.

Dalam naungan flysheet yang dideru deras hujan yang tercurah, Kami berbagi cerita, ceria, dan canda, yang menjadikan udara dingin dalam kehujanan seperti bukan masalah.  Dan akhirnya bisa lengkap juga, kami mengelilingi masakan yang di racik dan dimasak oleh Danny yang dibantu oleh Nurul dan Ulan.  Meskipun beberapa baru bertemu dan baru kenal, tapi keakraban kami segera mengalir seperti dengan teman sehari-hari.

Dan malam pun segera hadir menggantikan terang hari, namun menyembunyikan bulan dibalik awan kelam diatas hutan kaki gunung Salak ini.

Suasana perlahan berubah,  tapi kami berusaha bertahan untuk berpikir baik, kosentrasi dengan sekitarnya.  Terbawa hawa dingin, rasa kantuk mulai menghinggapi kami satu per satu hingga tertidur.  Namun tidur kami hanyalah tidur dalam fase antara tidur dan terjaga saja.

Sepertinya beberapa kali terdengar suara orang lain atau mungkin pendaki lain yang sedang berjalan di trek, tapi sewaktu di tegesin, tidak ada orang lain yang lewat.  Sampai akhirnya aku terbangun karena ada kelompok pendaki lain yang akan naik, menyapa kami yang sedang buka tenda di sisi trek.  Aku segera balas menyapa dan memastikan bahwa kondisi ku adalah sadar, begitu pula dengan mereka, adalah juga manusia, sama seperti aku. Bukah makhluk dari bangsa lain.  Segera aku cek waktu menunjukkan Pk. 03:10.  Ternyata sudah hari baru lagi.  Hujan pun sudah berhenti.  Segara aku bangunkan Mas Bro dan Danny, memberitahukan jika pagi segera menjelang.  Berharap bisa segera lanjutkan ke Puncak Salak 2.

Setelah sarapan pagi, Pukul 7 pagi, kami semua bergerak kembali menapaki jalan setapak yg sepertinya mulai berubah-ubah.  Jalan setapak di trek yang harus kami lalui kadang seperti parit yang sempit dan licin, kadang seperti jembatan dari pohon tumbang dan kadang seperti bentukan akar-akar tunggang yang kokoh menjalin seperti anak tangga. Sepertinya gunung ini mengerti, bila akan ada manusia yang bisa mendatanginya, makanya hutan ini pun mempersiapkan dirinya.  Dari tempat kami pasang tenda, kami lewati Pos 2, Pos Haji Solomod, lalu Pos Ksatria Baheung Awi.  Di Pos Ksatria Baheung Awi, kami menemukan dan menikmati buah buni hutan yang terasa fresh.  Lanjut ke atas lagi kami sampai ke Puncak fajar Kencana.  Ternyata jam sudah menunjukkan Pk. 12.00 WIB. Berjalan 5 jam mendaki maka kemungkinan utk kembali tiba di tempat pasang tenda adalah 3 jam ke depan.  Ternyata waktu jualah yang turut harus dipertimbangkan untuk mengatur perjalanan.

Tumbuh besar dan berdiri dengan kokoh, berselimutkan lumut yang lembab. Hijau yang menyejukan namun menyimpan kekuatan untuk melindung lembah dibawahnya dan memberikan oksigen bagi makhluk lainnya. Dan aku dalam diam menikmati keberadaanku diantaranya.  Inilah hutan hujan tropis gunung Salak,Ciapus-Bogor, Jawa Barat.

Menurut Mas Bro, yang sudah paling banyak mendaki gunung,  hampir semua gunung fenomenal di Pulau Jawa sudah pernah ia daki.  Tapi Trek Gunung salak via ajisaka ini menurutnya unik.

Jika saja kami muncak bukan di musim penghujan misalnya bulan juli hingga oktober akan paling berkesan, komentar nya.  beberapa catatannya antara lain adalah :

  1. Trek yang sempit jadi daya tarik bagi pendaki bukan pemula.
  2. Hening. ini paling disukai pendaki lanjutan, bukan pemula.
  3. Banyak tumbuhan liar yang bisa dimakan. Ini daya tarik juga.
  4. Belum terkontaminasi sampah. Hanya sedikit sampah di temukan di treknya.

Saat turun awalnya biasa saja.  Glen, berada di paling belakang bersama saya dan Iyan karna saya jalannya melambat sambil menikmati perjalanan dan akhirnya saya, Nurul, Iyan dan Glen pun jalan belakangan terpisah sekitar 10 menit di belakang Danni,  Heri, Mas Bro, dan Wulan.

Menurut pengalaman Glen sendiri, begini :

Setelah melewatin turunan yang terjal sampai ada alat bantu webbing untuk naik dan turun di trek tersebut, setelah melewati trek tersebut sekitar 10 menit aku melihat Wulan terdiam sambil di kelilingi oleh dani heri dan bang paul, aku pun menghampirinya bersama team yg lain “kenapa berhenti?” Ujarku.

” Jatuh bang wulan” ujar heri yang berjalan bersamanya

( Akupun menghampiri wulan sambil menatapnya, tapi wulan menundukan kepala sambil merintih kesakitan )  dan sempat kutanya ” Mau abang gendong turun gak?”

Wulan menjawab ” Gak usah bang gpp masih sanggup kok aku jalan, Bang” walau agak prihatin melihatnya aku mencoba untuk tidak memaksanya dan akupun langsung menggandengnya untuk melakukan perjalanan turun kembali ke tempat gear dan logistik yang kami tinggal di jalan.

Sigit dan Danni mencoba turun duluan karna mereka berniat untuk masak agar turun tidak kemalaman.

Sayapun sampai di pos 2 dan bertemu rombongan lain yang mendirikan tenda di tempat itu mereka berjumlah 2 orang, di sini saya menyuruh iyan dan Mas Bro kalau mau duluan ya gpp bang karna saya mau istirahat dan sebat dulu 😊. Kami istirahat lumayan lama sekitar 30 menit dan membuat kamipun segan melangkah. Kupaksakan untuk bangun dari tempat duduk kemudian aku mengajak ketiga rombonganku untuk melanjutkan perjalanan tiba-tiba wulan berucap “Enak ya di sini udaranya sejuk bikin gak mau pulang” mendengar ucapannya aku sedikit panik karna wulan bicara hal yang tidak boleh di ucapkan oleh para pendaki saat camp atau berada di hutan.  Tanpa pikir panjang langsung kujeda ucapannya dengan sedikit mengeraskan suaraku aku bicara sambil menatapnya “Kita pulang hari ini pokoknya kita harus ketemu sama rombongan yang lain dan turun bareng sama yang lain”

Aku berempat pun turun sambil kudekap tangan wulan dan tak ingin kulepaskan. Dalam hati aku berucap “Apapun yang terjadi wulan harus aku bawa turun hari ini”.

Kamipun berjalan santai karna kondisi kaki wulan yang mungkin sedikit terkilir langkah demi langkah kami lalui sambil terkadang berhenti sejenak untuk meredam rasa sakit yang di alami wulan, agar tidak terlalu sepi kami ber4 pun mulai dengan obrolan pendek agar suasana capek tidak terasa, , ,
Kami ingat semua jalur waktu berangkat dan sambil cerita kejadian saat berangkat apalagi tempat dimana pertama x kami berhenti istirahat, di tempat itu kami mengecek persediaan summit dan ternyata kami meninggalkan air minum yang seharusnya membawa 3 ltr air tapi kami malah membawa hanya 1 ltr air. . .

Kami mencari tempat itu kenapa sudah 3 jam perjalanan belum juga sampai, , tiba tiba saya terpeleset jatuh duduk dan saya kembali berdiri di bantu wulan karna kami berpegangan tangan sepanjang perjalanan akupun berdiri dan melanjutkan pejalanan dan heri berbicara bahwa dya melihat bayangan playsheet warna orange yang menandakan tempat camp kita tapi setelah aku melihatnya ternyata tidak ada hmm aku diam saya dan melanjutkan perjalanan sambil bicara dalam hati “kayaknya dimulai nih, tapi ini msih siang kok bisa ya si heri halu?” Sebagai penyemangat aku bilang ke heri ” yuk cepetan dah mau sampai kita”

Kemudian aku melihat tempat kami istirahat pertama kali yang tadi pagi meributkan air sugest dalam hati bicara “tapi pagi aku nanjak ke sini dari tempat camp hanya setengah jam kalau di lanjutkan perjalanan turun mungkin sekitar 15~20 menit” aku pun dan team melewati tikungan tersebut tanpa perasaan yang aneh..

Setelah berjalan kurang lebih 1 jam heri dan nurul pun melihat kembali playsheet yang mereka lihat dan saya besama wulanpun melihatnya, sayapun meminta istirahatvsejenak dan merasakan ada yang aneh di kaki saya, pas saya gulung celana saya ternyata ada pacet yang sudah sangat besar di kaki saya sayapun pencabut paksa dan alhasil darah saya mengalir.

Dalam istirahat tersebut sayapun merasakan hal aneh, tapi saya gak bisa berbuat apa² hanya mengikuti alur perjalanan yang menurut saya dan team itu jalan yang benar, wulan mengajak kembali untuk berjalan turun dan kamipun bergegas dari tempat istirahat.

Di perjalanan wulan sering merintih kesakitan karna efek jatuh di atas dan sering kali tangannya memegak pundaknya, saya berfikir negativ seperti ada orang lain di belakang wulan tapi tidak ada.

“Kenapa si lan kamu memegang pundakmu terus bukannya pegangan ke aku?”
Wulan menjawab “gak apa-apa”
( Sambil melotot seperti kesal sama saya )
Hmm ada yang aneh nich !!!

Dalam hati aku mengucapkan sahadat sambil membuka jaringan batin radius 10 meter (kata alm nenek saya radius akan lebih luas kalau saya sudah menikah dan menjalankan puasa mutih)

Setelah membuka jaringan ternyata benar ada sekitar 2 atau 3 makluk yang mengikuti perjalanan kami (hanya perasaan) jalurpun begitu nyata kulihat dan akhirnya kami kembali ke tikungan tersebut, disusul 2 pendaki yang betemu di pos 2 tapi kali ini saya merasa rilexs dan sadar akan perjalanan yang kami lewati adalah jalan yang benar di tambah kami mendengar suara adzan asyar telah berkumandang, setelah 15 menit berjalan akhirnya sayapun di bertemu sama riyan dan danny yang telah mengkhawatirkan keadaan saya dan team yang begitu lama.

Riyan sambil membawa golok langsung menebas beberapa pohon bambu muda dan menyodorkannya ke saya dan team, sayapun langsung mengambil 3 batang pohon bambu tersebut dan menyedot sari air yang ada di batang pohon bambu tersebut karna memang saya dehigrasi tidak ada membawa air. Kamipun kembali berjalan dan setelah 10 menit kami sampai pada tempat camp kami yang berada di pinggir jalur yang kami buat semalam. . .

Sampai pada tempat camp makanan yang sudah di masak oleh danny bersama sigit riyan dan mas bro pun di hidangkan masih utuh walau agak dingin sayur dan nasinya kamipun langsung menyantap dengan lahap.
Setelah 10 menit makananpun habis dan kami memberekan tempat makan prasmanan.
Ada yang merokok dan makan cemilan cepuluh sebagian lagi mempacking barang² untuk segera turun kembali ke BC, suasana langsung berubah dan bulu kuduk ku pun merinding ( entah apa yang melintas sangat tidak jelas )

Awan mulai menghitam dan rintik airpun berjatuhan sigit dan masbro tidak memperdulikan hujan dan tetap packing.

Saat mau jalan hujan makin menjadi dan kami memutuskan untuk stay dan menunggu magrib datang baru melanjutkan perjalan kami. . .

Setelah magrib kami semua memakai jas hujar kecuali saya yang hanya memakai alumunium blangket untuk menutupi kepala dan tubuh karna ponco/jas hujan saya tertinggal di motor adiknya riyan.
18.15 kami mulai melanjutkan turun dengan urutan terdepan Danny, masbro, heri, nurul, riyan, wulan, saya dan terakhir sigit.

Melintas kami di bekas aliran sungai yang sudah tidak ada airnya bulu kuduk ku kembali berdiri dan senter saya pun meredup entah karna apa yang jelas makin meredup, perasaan mencekampun tiba dan sigit tiba tiba dengan alasan membantu wulan dya melewati saya dan wulan tangan kanan wulan di pegang sama sigit dan tangan kirinya saya yang pegang kita bertiga berpegangan niatnya sampai bawah, tapi lagi² sigit melepaskan tangannya wulan dan melewati riyan.

Hmm dalam hati saya sedikit tersenyum dan bicara ” ini orang kenapa ye kaya gak mau tertinggal hahaa” jleeeep ada orang di belakang saya hanya langkahnya yang terdengar dan makin lama makin banyak suaranya tapi saya tidak mau melirik ke belakang dan tetap berjalan, setapak demi setapak langkah pergerakanku semakin berat dan aku sedikir berteriak “istirahat dulu bentar guys” team tanpa bertanya langsung berhenti dan kamipun istirahat 3 menit hanya untuk minum saja.

Saat melanjutkan perjalanan saya meminta riyan agar dya jalan di belakang saya dan rianpun menjawab “siap bang”

(Lanjut jalan guys)
Baru berjalan sekitar 5 langkah ( taptaptaptap saya mendengar orang berlari ke arah rombonganku ) tangan kiriku langsung memegang tangan kiri wulan dan tangan kananku memegang pundah kanan wulan sambil merapat jalan turun.

Hmm suaranya makin bayak nih.

Jalan yang becek dan hujanpun tidak mau berhenti ditambah perasaanku terhadap suara langkah beberapa orang di belakangplku makin menjadi².

“Berheti dulu guys riber gw sama alumunium ini” sayapun memutuskan hujan²an walaupun niatnya bukan hujan²an melainkan menampakan tubuh dan muka saya di tempat itu sambil membaca beberapa ayat suci alqur’an dan kembali membuka jaringan.

Tersentak saya saat melihat ke arah riyan karena ada 2 orang di belakangnya dan jauh di belakangnya ada sekitar 3 sampai 5 bayangan hitam dan langsung istigfar “yan jangan jauh jauh ya” ucapku kepada riyan dan sayapun bilang ke team yuk lanjut guys.

Kami kembali melanjutkan perjalanan tapi entah kenapa saya,wulan dan rian tertinggal sekitar 15 langkah di belakang sigit selallu seperti itu selama 30 menit perjalanan dan hmmmmmmmm saya menahan wulan untuk tidak melanjutkan perjalanan “Assalamuallaikum” saya berucap pelan ke arah depan dan samping kanan dan saya berteriak ke arah depan yang saya ketahui di balik bayangan gelaap yang berbentuk kaki “git oi git senter gw makin redup nih tolong terangin jalan depan gw dong” sigit menjawaab “lah ini udah gw terangin ( sambil merasa kebingungan sigit menghampiri menembus bayangan hitam tersebut) bayangannya pun seperti menunggu kami lewat dan sayapun kembali berucap pelan “Assalamuallaikum permisi” 3x saya menyebutkan salam dan permisi.

Wulan dan riyanpun mendengar ucapan salam saya, riyan merapatkan barisan dan wulanpun menangis setelah melihat ke arah bayangan tersebut dan makin lama makin kencang, sayapun langsung memeluk wulan dan berkata dalam hati ” ya allah tolong mudahkan perjalanan saya dan team ini ya allah, tolong ampunin hambamu ini dan team saya ya allah”

Alhamdulillah bayangan tersebut sedikit memudar dan berjalan ke samping kanan dekat pohon besar dan sayapun memaksa wulan berjalan, wulan mendekap tangan saya begitu kencang dan seperti tidak mau melihat apa².

Kamipun melanjutkan perjalanan tapi perasaan yang ada di belakangku tak pernah mau berhenti mengikuti kami seperti sedang mencari celah 😭.

Dan akhirnya datanglah se_ekor binatang yang konon adalah peliharaan nabi besar Muhammad S.A.W ( meong meong ) kucing tersebut di beri nama wahab oleh masbro karna kucing tersebut datang semua perhatianpun tertuju kepada wahab dan beberapa dari kami berebut untuk menyentuh wahab karna dalam posisi abis hujan dan tanah yang begitu becek bulu halus wahab yang berwarna putih tersebut tidak ada kotoran tanah satupun yang menempel di tubuhnya dan sayapun menyadarinya bahwa perasaan yang mengikuti kamipun telah hilang. . .
(meong meong ) wahap selalu mondar mandir dari depan kebelakang seperti menyuruh kami bergegas. . .
Danny dan masbro yang menyadarinyapun langsung meminta kami melanjutkan perjalanan. . .
(Terimakasih ya allah)

Saya lanjutkan lagi nih cerita pengalaman hiking bersama kelompok ini. Saya dan Danny tiba lebih dulu di lokasi tenda dan segera memasak buat makan siang kami. Beres masak Taka lama, Mas Bro dan Iyan tiba juga di tenda. Tapi, Glen, Nurul,Wulan dan Heri, masih juga belum pada sampai ke lokasi Tenda kami. Barulah sejam kemudian, mereka berempat tiba juga akhirnya di tenda.

Heri bercerita jika dia berempat tadi ternyata disasarin sampi 2 kali balik cari tenda kami tapi gak ketemu…🤦🏿‍♂. Sudah jam 4 sore tapi belum juga sampai ke tenda. Alhamdulillah bisa ketemu juga sama team kita semua nya dengan keadaan selamat.

Kami putuskan segera pulang jam 6 sore setelah Magrib. Dan Kami teruskan untuk turun ke rumah Abah, walaupun hujan mulai turun lagi. Mulai dari sinilah hi suasana mistis bermunculan dan terasa ada yang nyata dan tidak nyata. Danny merasakan bahwa dirinya secara sadar, melihat sepasang mata merah menyala. Bukan cuma Danny, Mas Bro juga bilang jika dirinya sempat melihatnya pula, tapi segera melepaskan pandangannya ke arah lain.

Disepanjang perjalanan turun malam itu, kami semua saling menjaga jarak agar tetap saling mengetahui keberadaan semua anggota tim ini. Apalagi dengan kondisi Wulan yang cidera karena terjatuh sebelum mencapai tenda tadi sore.

Mas Bro pun merasakan hal yang mistis diwaktu kami berjalan menuruni trek.

Seperti ini yang dirasakannya : Sepasang mata merah. ya saya melihatnya sebelum mas danny melihatnya. saya pastikan itu lelembut jika dihubungkan dgn kejadian sebelumnya. Saya merasa mahluk itu tidak berniat mengganggu krn kami semua tidak punya hati yg tidak baik. Mata merah itu hanya ingin mengingatkan jika ia ada. eksistensinya di jalur via ajisaka ada dan abadi.

Sebenarnya saya mengalaminya secara pribadi. pada saat si wahab mendatangi sesaat sebelum menuju maqom saya mendengar bisikan yg begitu jelas. ‘om jangan terlalu berlama2 istrahat. segera pulang ikuti wahab. hujan akan turun dan eyang siliwangi akan lewat ( wujud nya menjadi harimau).  ada hal yang tak bisa di nalar. saat kita beriringan turun menuju pos abah kadangkala saya melihat jumlah 9 orang saat saya menyenter kebelakang. saya kedua dari depan.

saya putuskan utk tidak cerita kejadian ini krn sebelum muncak saya sudah di wanti2 sama mas glen jika mengalami hal2 mistis jgn diceritakan. nanti saja setelah turun gunung.

Ternyata Nurul pun merasakan keganjilan yang serupa.  Nurul merasakan dengan gambaran yang coba dituangkan seperti ini : “Jujur aja aku sempet ngerasa ada something pas turun sebelum si wahab nyamperin. Mau cerita tapi sulit.”

Saya pun dengan segala keterbatasan saya, hanya bisa berdoa dan berharap agar semuanya selamat tanpa kurang suatu apa pun dari kami semua.  Dan Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang masih melindungi kami semua hingga selamat turun dari Gunung Salak tersebut.  Teman baru dan pengalaman serta pengetahuan baru adalah hal berharga yang tidak bisa dinilai dengan uang.  Semoga kami masih bisa dapatkan lagi dilain kesempatan dan dengan hasil yang lebih membahagiakan.  Terimakasih dan Selamat buat semuanya, Mas Bro, Glen, Danny, Heri,Iyan, Nurul, Wulan.

Salak 7

Proofread : Sigit B Priyono
Editor : Glen Setiawan
Source : Dhimas Triyana

Instagram

Ketik Email Diceena:

Share |