ondo-daunOndo atau gadung dalam bahasa ilmiahnya disebut Dioscorea hispida Dennst tergolong tanaman umbi-umbian yang cukup populer walaupun kurang mendapat perhatian. Gadung menghasilkan umbi yang dapat dimakan, namun mengandung racun yang dapat mengakibatkan pusing dan muntah apabila kurang benar pengolahannya. Produk gadung yang paling dikenal adalah dalam bentuk keripik meskipun rebusan gadung juga dapat dimakan. Umbinya dapat pula dijadikan arak (difermentasi) sehingga di Malaysia dikenal pula sebagai ubi arak, selain taring pelandok.

Di Indonesia, tumbuhan ini memiliki nama seperti bitule (Gorontalo), gadu (Bima), gadung (Bali, Jawa, Madura, Sunda) iwi (Sumba), kapak (Sasak), salapa (Bugis) dan sikapa (Makassar). Sedangkan masyarakat Kabaena menyebutnya Ondo.

Tumbuhan Ondo berbatang merambat dan memanjat, panjang 5–20 m. Arah rambatannya selalu berputar ke kiri (melawan arah jarum jam, jika dilihat dari atas). Ciri khas ini penting untuk membedakannya dari gembili yang memiliki penampilan mirip namun batangnya berputar ke kanan. Ondo merambat pada tumbuhan berbatang keras.

umbi-ondo

Umbi Ondo – Gadung

Batangnya kurus ramping, setebal 0,5–1 cm, ditumbuhi duri atau tidak, hijau keabu-abuan. Daun-daunnya terletak berseling, dengan tiga anak daun menjari, bentuk bundar telur atau bundar telur sungsang, tipis bagai kertas. Bunga jantan terkumpul dalam tandan di ketiak; bunga betina majemuk berbentuk bulir. Mahkota bunganya berwarna kuning, benang sarinya berjumlah enam, dan berwarna kuning juga. Umbinya terbentuk dalam tanah, berjumlah banyak dan tak beraturan bentuknya, menggerombol dalam kumpulan hingga selebar 25 cm. Sementara buahnya, berbentuk elips, berdaging, berdiameter ± 1 cm, dan berwarna coklat.

keripik - ondo

Keripik Ondo

Ada beberapa varietasnya, di antaranya yang berumbi putih (yang besar dikenal sebagai gadung punel atau gadung ketan, sementara yang kecil berlekuk-lekuk disebut gadung suntil) dan yang berumbi kuning, gadung kuning, gadung kunyit atau gadung padi.

Pengobatan

Umbi Ondo dikenal sangat beracun. Umbi ini digunakan sebagai racun ikan atau mata panah. Sepotong umbi sebesar apel cukup untuk membunuh seorang pria dalam waktu 6 jam. Efek pertama berupa rasa tidak nyaman di tenggorokan, yang berangsur menjadi rasa terbakar, diikuti oleh pusing, muntah darah, rasa tercekik, mengantuk dan kelelahan.

Meski demikian di Indonesia dan Cina, parutan umbi Ondo ini digunakan untuk mengobati penyakit kusta tahap awal, kutil, kapalan dan mata ikan. Bersama dengan gadung cina (Smilax china L.), umbi Ondo dipakai untuk mengobati luka-luka akibat sifilis. Di Thailand, irisan dari umbi gadung dioleskan untuk mengurangi kejang perut dan kolik, dan untuk menghilangkan nanah dari luka-luka. Di Filipina dan Cina, umbi ini digunakan untuk meringankan arthritis dan rematik, dan untuk membersihkan luka binatang yang dipenuhi belatung.

nasi-ondo

Nasi Ondo – Gadung

Makanan pokok

Ondo dipergunakan sebagai makanan pokok. Catatan sejarah menunjukkan bahwa pada tahun 1628, di saat Batavia (sekarang Jakarta) dikepung, masyarakat memakan singkong dan Ondo. Pada masa Rumphius, beberapa jenis Dioscorea juga ikut dimakan. Ini diperkuat dengan kebiasaan masyarakat yang memakan singkong hutan liar di Priangan dan sebagian Jawa Timur pada 1830. Kebiasaan ini diperkuat bahwa di Jawa Tengah-pun, memakan nasi adalah kebiasaan yang belum umum di sana. Ini diperkuat dengan kebiasaan makan nasi yang mulai menjalar pada 1800 Masehi. Pada masa itu, serdadu VOC yang sering bertugas ke kampung-kampung sering membawa nasi untuk makanan mereka. Ini memberi kejelasan bagi kita bahwa nasi belum umum hingga bagian pertama abad ke-19 dan umbi-umbian semacam Ondo umum dimakan pada masa penjajahan Kolonial Belanda.

Masyarakat Kabaena sendiri mengkonsumsi Ondo sejak zaman gurila (pemberontakan DI/TII Kahar Muzakkar sekitar tahun 1965) Bahkan di tahun 1970an masyarakat Kabaena masih menjadikan Ondo sebagai makanan pokok.

Ondo terkenal beracun dan mengandung alkaloid dioskorina (dioscorine) yang menyebabkan pusing-pusing. Di Nusa Tenggara dan Maluku, biasa digunakan sebagai makanan pokok sebagai pengganti jagung dan sagu terutama di wilayah-wilayah kering. Pada tahun 80-an, gadung dapat ditemui di pasar-pasar Indonesia -terutama di Pulau Jawa- sebagai keripik gadung. Di zaman sekarang ini, hanya keripiknya-lah yang dimakan. Keripik gadung banyak dijual di Kuningan, Jawa Barat dan rasanya gurih.

Berikut adalah cara menghilangkan racun dari Ondo:

  • Di Ambon irisan umbi Ondo diremas-remas dalam air laut kemudian direndam kembali ke laut selama 2-3 hari sampai menjadi lembek. Setelah itu, baru dijemur.
  • Di Bali, setelah Ondo dikupas dan diiris-iris menjadi kepingan, maka ia dicampur dengan abu gosok. Kemudian direndam dalam air laut (atau dalam air garam bertakaran 3%), dan dicuci lagi dengan air tawar. Penjemuran terus dilakukan selama 3 hari. Untuk mengetahui apakah racun yang ada sudah hilang, maka biasanya dicobakan kepada ayam. Satu pertanda kalau racunnya sudah hilang, bahwa si ayam tidak akan merasa mabuk. Cara seperti ini dipraktekan oleh masyarakat Kabaena dan Tolaki, cuman kalau masyarakat Tolaki moncobanya dengan cara meneteskan ke mata, jika perih menandakan Ondo masih mengandung racun dan belum layak dikonsumsi.
  • Cara ketiga, di Kebumen, Jawa Tengah setelah gadung dilumasi dengan abu gosok, maka gadung tersebut harus dipendam dalam tanah selama 3-4 hari. Kemudian digali dan dicuci dengan air tawar sambil diremas-remas seperti mencuci beras. Apabila racun telah hilang, air cucian yang terakhir tidak berwarna putih susu lagi seperti air bilasan sebelumnya.

 

Share KabaenaInfo ke FB..

Instagram

Ketik Email Diceena:

Share |