Peserta Merereaki & Takabere

Panorama dan pemandangan alam desa pada umumnya terdiri dari barisan bukit, gunung yang menjulang, hamparan sawah bak permadani, aliran sungai dengan air yang jernih serta aktivitas para petani desa yang sibuk mengolah tanah mereka.

Seperti panorama pegunungan Kabaena merupakan bukti nyata gambaran alam hunian yang menyenangkan. Dengan letak yang jauh dari perkotaan, pemandangan di Kabaena ini memiliki udara yang sejuk dan nyaris sangat dingin. Pemandangan alam itulah yang menjadi daya tarik utama dan mendapat julukan “Kampo Da Moico Hawano”.

Sisi lain Kabaena dimana nenek moyangku berasal, semua anak harus ke rumah guru ngaji yang di sebut “Juru” untuk belajar mengaji. Malu orang tua atau pamannya kalau anak-kemenakannya yang sudah besar tidak pandai mengaji. Karena itu boleh dibilang semua anak yang sudah patut atau cukup umur, tanpa kecuali, menjadi santri di masigi atau di rumah Juru. Jam mengaji biasanya petang hari setelah asyar sampai menjelang magrib. Di waktu-waktu tertentu ada juga kelas malam, selepas magrib sampai waktu sholat isya tiba.


Anak Pria yang sedang dimandikan Guru Ngaji

Setiap kampung punya banyak mushollah atau semacam surau tempat anak-anak belajar mengaji. Di Kabaena sendiri ada tokoh yang sangat dikagumi. Beliaulah pembawa dan menyebar Islam di Kabaena, KH. Daud. Dan semua kampung di daratan Kabaena berdiri surau-surau tempat anak-anak belajar mengaji. Bahkan ada budaya, anak-anak mengaji lebih segan pada guru ngaji daripada guru di sekolah. Tak jarang guru ngaji melecut kaki santri dengan rotan karena berisik, datang telat, bolos, dan semua anak-anak yang menerima hukuman tak ada yang protes. Di mushollah atau di rumah Juru, anak-anak yang akan mememulai belajar mengaji akan melaksanakan “Merereaki” yaitu semacam adat menelan jantung ayam dan dilanjutkan pemandian oleh guru ngaji [Juru]. Dan kemudian akhirnya khatam Qur’an dan dirayakan orang sekampung yang disebut “Takabere”.


Anak Wanita yang sedang dimandikan Guru Ngaji

Tentu akan banyak menyisakan kenangan semasa mengaji di mushollah. Masing-masing akan punya cerita sendiri yang tentu sangat mengesankan. Saat penamatan Al-Quran dan anak-anak ngaji ini akan melakukan acara puncak yaitu “Takabere”. Prosesi Takabere tak jauh beda dengan ritual budaya yang ada di Kabaena lainnya semacam: Mehakeka [potong rambut bayi baru lahir] dan acara selamatan menempati rumah baru.

Tak dipungkiri, bahwa suasana alam Kabaena yang umumnya memiliki pemandangan yang menawan, udara yang sejuk serta tingkat kebisingan yang jauh lebih kecil dibanding dengan di kota yang merupakan pusat kesibukan dan pusat polusi udara. Juga ternyata suasana di Kabaena sangat tepat untuk kita gunakan sebagai tempat keluarga melepas penat disaat liburan bersama anak-anak atau keponakan sambil belajar mengaji atau memperdalam ilmu agama sehingga liburan kita menjadi lebih bermakna.

Photo Dokumentasi: Hj. Hamna

14 Responses to “Budaya Merereaki & Takabere”

  • ab_nbx:

    semoga edisi berikutnya di muat juga tentang MEWAKA (sunatan)

    • kabaena:

      Terimakasih banyak atas masukannya. Akan kami buat artikelnya setelah gambar2 pendukung masuk pada kami.

  • ab_nbx:

    sewaktu sy belajar (dan sekrang masih belajar), budaya ini kental banget, waktunyapun sungguh teratur, biasanya waktu ngaji jam 4 sore ato jam 7 malam, hukuman paling ringan kalo ngaji gak benar (lafadz tdk tepat) ato telat adalah umahi (ambil air)…yg paling seru ketika ya menelan jantung ayam yg masih mentah ini (bawa ayam kecil spy jantungnya mudah d telan karena sering lomba siapa yg cepat/tidak tongkeA), d kesehatan ada gak efeknya nih barang krna sejauh ini belum dpt artikelnya…hehehehe

  • Nizham:

    biasanya guru ngaji juga dapat melakukan sunatan massal (mevaka) pada anak2 ngaji yang masih berumur dibawah 10 tahun

  • risa:

    Ajari anak-kemanakan kita mengaji agar kelak menjadi anak yang taat pada agama

  • vonuaku:

    dengan membaca artikel ini, setidaknya kita yang di rantau selalu teringat dan mengajarkan anak2 kita mengaji dan diharapkan ketika liburan ke kampung dapat melaksanakan Takabere

  • Rea Molea:

    Kita patut mensyujuri karena kita jadi anak2 Kabaena. Kendati sebagai anak kampung tapi kita lbh beruntung daripada anak2 kota yang kebanyakan tak bisa baca Al-Qur’an seperti kita

  • marco:

    itu anak2 kalau liat fotonya setelah gede pasti ketawa ketiwi tuh

  • Syamsuddin A:

    Sepertinya saya kenal guru ngaji yang gambar di atas. Ini lokasi gambar dimana ya bro

  • Kamaluddin:

    Proses merereaki ini cukup menegangkan anak2 ngaji. Harus menelan Hule Manu. Tapi setelah berhasil melakukannya ada rasa puas dalam hati.

  • alan:

    betul sekali bro. yang tak mengaji anak2 di kampung dulu selalu di ejek. makanya semua pada ngaji

  • aminuddin:

    masa kecil jadi masa penuh kenangan. Pulang sekolah setelah bantu2 orang tua langsung ke masjid untuk belajar mengaji. Jika terlambat kita di hukum oleh guru ngaji 🙂

  • ariana:

    budaya merereaki dan takaberi tak pernah ditinggalkan sejak dulu. Ini budaya yang selalu lestari sepanjang kita sebagai anak Kabaena ikut melestarikannya

  • Muniati:

    Subhanallah. Terimakasih atas dimuatnya artikel semacam ini. Agar selalu mengingatkan kita yang jauh di rantau dan tetap mengajarkan anak2 kita mengaji.

Leave a Reply

Instagram

Ketik Email Diceena:

Share |