970211_126453927554590_19363509_n
Mengunjungi Desa Tangkeno bukan cuma untuk berburu Gula Kelapa yang merupakan kuliner khas Kabaena. Tetapi juga menawarkan keindahan alam yang luar biasa. Keindahan desa ini makin memukau saat pelaksanaan festival Budaya, Berbagai acara adat diselenggarakan, seperti: Lulo Alu, Lumense dan peragaan Busana. Penyelenggaraan Festival dilaksanakan dari tanggal 13-16 Mei 2013. Adapun tujuan diadakan festival ini adalah untuk mempromosikan pariwisata seni budaya dan potensi ekonomi kreatif di Kabaena, khususnya di kawasan desa Wisata Tangkeno.

Tangkeno merupakan dataran tinggi di kawasan Kabaena  yang menyuguhkan pesona alam yang luar biasa. Anda bisa menyaksikan pemandangan alam dan pegunungan hijau yang terhampar di sekeliling dari wilayah yang berjarak beberapa ratus meter dari bukit Sangiawita dan maqam Mokole Tutuntari [ayahanda Mokole Pu’u Roda]

Sisi lain yang menarik dari Tangkeno  adalah alamnya yang asri. Kalau malam suasananya romantis, cocok untuk duduk-duduk sambil menikmati kopi diberanda rumah kayu. Tempat ini selain dengan pemandangan indah dan sejuk serta memiliki sumber mata air alami.  Tangkeno kini telah ditetapkan sebagai Desa Wisata. Terdapat air terjun hulu Lakambula setinggi ratusan meter yang sering dikunjungi oleh para wisatawan untuk sekedar melepas lelah dan bersantai di daerah ini.


Tarian Lulo Alu

Anda dapat mencoba petualangan yang dapat memicu adrenalin yaitu rafting dengan menyusuri aliran deras sungai Lakambula sepanjang 15 KM, dari kaki gunung Sabampolulu, Rute rafting melalui desa Tirongkotua, Rahadopi, Teomokole, Rahampuu dan bermuara di Vambano, Sikeli. Tentu saja Anda akan disuguhi pesona air dan bentang alam sekitar sungai yang cukup memukau, belum lagi batu-batu besar dan tebing disepanjang sungai yang menantang para jiwa muda untuk berpetualang dan merasakan  sensasinya.


Rumah Belajar Desa Wisata

abd-madjid-ege

Abdul Madjid Ege & Istri

Keberadaan berbagai situs sejarah di Tangkeno menambah daya magis tersendiri. Situs sejarah  yang paling diminati oleh warga masyarakat adalah Benteng Tavuladi dan Batusangia. Inilah yang mendorong Pemda setempat mulai mengembangkan dan memoderasi situs-situs yang ada, yang mana diharapkan bisa menjadi salah satu icon wisata daerah Tangkeno sehingga menjadi desa tujuan wisata pilihan.


Rumah Belajar Dengan Latar Belakang Batusangia

Menuju Tangkeno, persiapan yang perlu dilakukan adalah menyiapkan jaket yang cukup tebal yang dapat membuat badan Anda terasa hangat. Hal ini lantaran cuaca alam Tangkeno dan gunung sangat dingin pada pagi dan malam hari.

Dokumentasi gambar:
Ivan Fatamorgana & Dhewy Chamyu

24 Responses to “Bumi Tangkeno”

  • Rizal:

    dengar2 Kabaena akan dimekarkan jadi Kabupaten. jika ini benar apakah infrastrukturnya sudah siap?

    • Intama:

      Pemekaran Kabaena menjadi sebuah Kabupaten memang sedang dalam godokan. Insya Allah thn 2014 dan paling lambat awal thn 2015 sudah terealisasi

      • kabaena:

        tahun 2015 sudah hampir berlalu. Nampaknya impian Kabaena untuk menjadi sebuah kabupaten sirna sudah. Ini mungkin disebabkan kondisi politik negeri ini dan juga infrastruktur yang blm memadai

  • Winnie:

    “RUMAH BELAJAR” itu untuk pertemuan2 adat ya. Aku liat tiang penyangganya ngga di cor takutnya kalo angin badai bisa rubuh 😉

  • Suri:

    tak sengaja nemu web ini saat ak searching di google ttg Budaya Sulawesi. Terkejut juga rupanya ada banyak tempat2 wisata yg blm saya kunjungi yg ada di negeri tetanggaku. Saya tinggal di Surabaya. Suatu saat saya akan ke Bumi Tangkeno dan menikmati kesejukan alamnya.

  • Ana Mokole:

    Udah baca2 semua artikel yang ada di situs ini tapi blm ada ulasan tentang “MEVAKA” sepertinya akan seru kalo ada artikelnya. Yang mana kita tau di Kabaena setiap musim libur anak sekolah atau libur Ramadhan selalu ada aktivitas MEVAKA.

    • kabaena:

      Terimakasih masukannya. Nanti kami usahakan posting mengenai MEVAKA setelah gambar pendukung kami miliki. Request ini juga sudah beberapa kali diminta user di thread lainnya.

  • Shafa:

    nai admin adiy web. Merende to orio. Niburino podo tula2no tokotua

  • Anadalo Intama:

    esensi dari festival budaya ini sebenarnya mengacu pada kesadaran masyarakat Kabaena akan pentingnya nilai2 kultur yg ada. Diharapkan ada aksi nyata demi pemenuhan harapan tersebut. Semua adat istiadat dilestarikan dgn banyak cara semisal memperkenalkan budaya Kabaena pada peserta didik mulai dari tingkat TK hingga sekolah lanjutan.

  • Lovina:

    Terdapat beberapa tempat yang sebenarnya luput dari pantauan. Ada pantai Lamolea, pantai Lengora, Sangia Tabaro, dll. Tempat2 ini patut direportase, selain tempatnya yg indah – juga memiliki keunikan tersendiri yg patut disajikan bagi traveler lokal.

  • Alia:

    hmmm. ingin rasanya kunjungi tanah nenek moyangku. Terlihat sekali perubahan kabaena dari tahun ketahun. Semoga saja tempat2 wisata yang ada tetap lestari

  • Lukman:

    saya percaya akan tiba saatnya nanti Kabaena menjadi sebuah Kabupaten atau kota Madya. Waktu akan membuktikan semua itu. Tugas kita sekarang adalah ikut berpartisipasi melestarikan budaya yg ada sehingga jika saatnya tiba maka budaya yang ada sekarang tak punah.

  • hendra:

    MOHON MAAF..

    Sebelumnya terimakasih banyak karena telah mencantumkan sumber untuk photo yang sebelah atas…
    Tapi, kalau saya melihat. Sepertinya ada yang dikurangi dan di tambahkan pada photo tersebut.
    1. Yang dikurangi dari photo tersebut adalah mengCROP photo tersebut.
    2. Yang ditambahkan adalah kalimat yang ada pada photo itu sendiri.

    Harusnya, jika ingin meng-CROP dan mencantumkan tulisan apapun pada photo tersebut. Mintalah ijin dulu. Karena photo tersebut sudah ada hak cipta dari FLICKR atas nama ENOLGRAPHIC’S
    Dan kalau bisa, ketika mencantumkan sumber. Cantumkan link dari sumbernya sendiri agar bisa diakses oleh orang umum..

    Terimakasih banyak atas perhatiannya..

    • kabaena:

      Terimakasih telah berkunjung di Portal Kabaena. Tentang gambar yg diambil dari flickr terlalu besar sehingga tak memungkinkan untuk dimuat di portal ini sehingga kami mengcropnya. Dan kami tidak menyertakan link selain sumbernya krn hemat kami portal ini bukan bertujuan komersial. Dengan penjelasan ini diharapkan pengertiannya. Kami tak menggunakan gambar tersebut sekarang di Portal ini krn sizenya terlalu besar. Thx

  • Karman:

    mana gambar2 lainnya min. Kalo dah dapet tolong diupdate ya :)

    • kabaena:

      Sabar yaa :)
      kami masih menunggu kiriman gambar2 pendukung artikel ini dari kontributor kami di lapangan.

  • yuyun:

    merende mohule campo kipodeaho mealuomo perubahano yo vitaku

  • kambose:

    ada banyak budaya yg perlu dilestarikan di Kabaena, misalnya: Mekada dan Mo Ohohi (senandung malam) serta Momamani (tarian perang). Sepertinya generasi tahun 80-an tak ada lagi yang kenal budaya tersebut

    • hizkiani:

      betul sahinaa. Ada juga tutumpena, enggo, ase dan masih banyak lagi mainan anak2 zaman dulu yg kini sudah terlupakan. Perlu pelestarian dgn cara memasukan kurikulumnya di mata pelajaran Seni Budaya tingkat Sekolah dasar

  • nella:

    tetaplah jaya Kabaena, turuano reanto

  • Aminuddin Ali:

    Ini momen penting dan saatnya para tetua adat memulai merapatkan barisan kiranya tanah Kabaena dijaga alamnya terutama situs2 sejarah yang ada tak rusak oleh para penambang

  • Sisi:

    festivalnya msh berlangsung ya. Mohon tambahkan informasi lbh lengkap mengenai pelaksanaan festival tsb jika acaranya telah selesai.

    • kabaena:

      Thx atas atensinya. Nanti kami tambahkan gambar2 pendukung :)

  • Liana:

    Awal yang baik. Semoga selalu diadakan festival Budaya di Kabaena tiap tahun demi meningkatkan potensi budaya yang ada.

Leave a Reply

Instagram

Ketik Email Diceena:

Share |