Archive for the ‘Budaya Me’antani’ Category

Me’antani adalah tradisi makan sirih masyarakat Kabaena yang merupakan warisan budaya tempo dulu. Konon budaya me’antani atau makan sirih ini sudah ada lebih dari 3000 tahun yang lampau atau di zaman Neolitik, dan budaya me’antani ini dianut oleh berbagai negara.


Buah Pinang

Tradisi ini tidak diketahui secara pasti dari mana berasal. Dari cerita-cerita sastra, dikatakan tradisi ini berasal dari India. Tetapi jika ditelusur berdasarkan bukti linguistik, kemungkinan besar tradisi makan sirih berasal dari Indonesia. Pelaut terkenal Marco Polo menulis dalam catatannya di abad ke-13, bahwa orang India suka mengunyah segumpal tembakau. Sementara itu penjelajah terdahulu seperti Ibnu Batutah dan Vasco de Gama menyatakan bahwa masyarakat Timur memiliki kebiasaan me’antani.


Sedang Me’antani

Pada masyarakat Kabaena pada abad ke 14, sirih pada mulanya bukan untuk dimakan, tetapi sebagai persembahan kepada leluhur sewaktu mengobati orang sakit. Beberapa helai daun sirih dan daun tembakau dihidangkan bersama gambir dan pinang lalu dibacakan mantra-mantra agar pasien yang sedang sakit dapat disembuhkan. Secara tradisional, bila dilihat dari komposisi bahannya, Sirih berguna untuk membunuh kuman, antioksidan, dan anti jamur. Tak heran banyak yang menganggap menyirih berguna untuk mencegah gigi rusak atau keropos. Gambir berguna untuk mencegah bau mulut dan mencegah sariawan. Sedangkan biji pinang digunakan dalam ramuan untuk mengobati sakit disentri, diare berdarah, dan kudisan. Biji ini juga dimanfaatkan sebagai penghasil zat pewarna merah dan bahan penyamak.


Daun Sirih

Pada abad ke 19 hingga awal abad 20 sudah menjadi kelaziman di Kabaena sebelum pernikahan ada perlengkapan sirih dan pinang merupakan suatu kewajiban dan harus ada bagi para tamu dan undangan yang hadir. Ini merupakan waktu-waktu yang spesial untuk me’antani secara bersama-sama. Begitu juga pada saat pernikahan tiba hal tersebut merupakan makanan wajib yang harus ada disiapkan untuk para tamu.

Sedangkan pada saat ini me’antani tidak begitu dikenal di kalangan masyarakat muda Kabaena, hanya orang-orang tua-lah yang masih me’antani. Padahal selain di makan atau di ‘susur’ oleh rakyat kebanyakan, sirih juga dikenal sebagai simbol budaya dan menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam adat istiadat Kabaena saat meminang seorang wanita, yang disebut “Modio Ninyapi”.

Kini, budaya me’antani hanyalah sebuah cerita. Kita akan sulit menemukan orang Kabaena yang sedang me’antani. Mungkin budaya ini perlu dilestarikan? Agar anak-anak Kabaena tidak asing dengan budayanya. Me’antani jauh lebih sehat daripada mengkonsumsi produk-produk luar untuk pencitraan modern dan banyak mengandung bahan kimiawi.

Instagram

Ketik Email Diceena:

Share |