Archive for the ‘Jembatan Lampa’amanu’ Category


Jembatan Lampa’amanu

Kabaena yang kita kenal menawarkan sejuta keindahan alamnya ternyata juga menyimpan banyak cerita misteri yang patut kita ketahui.

Salahsatu cerita rakyat yang akan kita soroti adalah tempat angker di antara Ulungkura dan Enano. Dan tentu jika bicara soal tempat angker di Kabaena ibarat menguak berjuta misteri yang tak terpecahkan sampai kapanpun.

Lampa’amanu jika diterjemahkan secara literal berarti “Bukit Paha Ayam”, yang secara harfiah kita bisa memahami karena bukit ini memiliki tanjakan yang sangat curam yang berkelok menyerupai paha ayam. Dan pada ujung kelokan ada sebuah jembatan yang akhirnya menjadi namanya sebagai jembatan “Lampa’amanu”.

Warga Manuru yang sekarang dikenal sebagai Ulungkura yang tinggal disekitar jembatan ini masih percaya akan adanya mahkluk halus yang tinggal di hutan-hutan sekitar Lampa’amanu. Dan bahkan masyarakat Kabaena secara umum percaya bahwa jembatan Lampa’amanu adalah salahsatu istana mahluk halus.

Peristiwa-peritiwa gaib sering dialami oleh warga yang melintasi jembatan ini. Masyarakat yang melintas konon sering melihat penampakan-penampakan berupa gadis cantik berambut panjang atau sesosok nenek tua yang duduk ditepian jembatan. Dan bahkan saat mengendarai motor sendirian tiba-tiba ada yang minta tumpangan dan setelah melewati jembatan Lampa’amanu penumpang tersebut menghilang secara misterius.


Penurunan menuju jembatan Lampa’amanu

Konon kehadiran manusia di tempat-tempat yang dihuni mahkluk halus kadangkala menimbulkan gangguan bagi mahkluk halus, oleh sebab itu sebaiknya manusia minta ijin (permisi) terlebih dahulu bila memasuki wilayah mereka. Bau-bauan sering mengganggu mereka, untuk itu seorang pendaki jangan sembarangan buang air. Bau rokok dan minuman keras dapat membangunkan mahkluk halus yang sedang tidur. Suara gaduh juga bisa membuat marah mahkluk halus.

Di zaman mokole sebelum Islam masuk Kabaena tak jarang dijumpai masyarakat kala itu melakukan selamatan untuk menghormati dan sebagai rasa terima kasih kepada mahluk halus misalnya melakukan penyembelihan hewan dan darahnya dipersembahkan sebagai sesajen dengan mengoleskannya ke pohon yang dianggap angker atau jembatan angker dengan tujuan agar pelaku sesaji terhindar dari marabahaya.

Inilah fenomena yang tak bisa kita pungkiri. Dan kita sebagai generasi muda Kabaena harus merubah paradigma berpikir bahwa hal-hal mistik adalah hal-hal legenda saja. Sebab Tuhan tak menghendaki kita berkiblat selain-Nya. Seorang yang bijaksana akan menyapa matahari ketika muncul di ufuk timur dibalik Batusangia. Hembusan angin sepoi dianggap sebagai kejenakaan seorang sahabat, kucuran hujan deras adalah ajakan alam untuk bermain dan bercanda. Batu besar atau batang pohon bisa menjadi kawan kita berinspirasi, Burung-burung mengajak kita bernyanyi.

Alam Kabaena memang memiliki roh kehidupan. Pemandangan bukit hijau seketika mengingatkan kita pada bukit Teletubies, acara ditelevisi yang sempat ngehits beberapa Tahun yang lalu. Hijau alam Kabaena ini jauh lebih nyata daripada tayangan yang kita lihat di televisi itu, lebih alami dan tentunya lebih indah, meski kita tidak menemukan di Kabaena sosok tinky winky, dipsy, lala dan poo untuk diajak berpelukan.

Kabaena, penduduknya yang ramah dan menghormati alam dan menjadikan legenda-legenda yang ada sebagai warna budaya dan kita akan selalu memelihara semua yang ada dengan semangat hidup yang baru dan penuh cinta.

Instagram

Ketik Email Diceena:

Share |