Archive for the ‘Panorama’ Category

Setiap kali ada kesempatan untuk mendaki, Jawa Tengah berdiri di antara banyak pilihan untuk dituju. Semua gunung yang ada di dalamnya menawarkan pemandangan yang begitu indah.

Di antara Gunung Merbabu, Gunung Sumbing, Gunung Slamet, hingga Gunung Merapi, terdapat Gunung Sindoro yang selalu menjadi salah satu gunung favorit bagi kalangan pendaki. Begitu mendapatkan kesempatan untuk melakukan pendakian di Jawa Tengah, Gunung Sindoro menjadi pilihan. Gunung ini sudah lama menantangku untuk menaklukkannya, dan aku pun menjawab tantangannya.

Tentang Gunung Sindoro, Jawa Tengah

Gunung Sindoro dilihat dari Puncak Gunung Sumbing

Gunung Sindoro, atau yang juga kerap disebut Gunung Sundoro, memiliki ketinggian 3.153 mdpl di atas permukaan laut.

Gunung ini terletak di sekitar Kabupaten Temanggung dan Wonosobo, Jawa Tengah.

Gunung Sindoro merupakan gunung berapi aktif berkarakter gunung kerucut tipe Strato, dan terakhir sekali meletus tahun 1971 silam.

Bersama Gunung Sumbing yang berhadapan dengannya, Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing kerap dianggap sebagai ‘Gunung Kembar’ dalam artian harafiah karena mirip bentuknya dan lokasinya pun berhadapan sangat dekat.

Gunung Sumbing dan Sindoro selalu dijadikan target pendakian, terutama bagi pendakian tek-tok, di mana kedua gunung berusaha ditaklukkan dalam waktu yang berdekatan.

Apabila dikaitkan pula dengan Gunung Slamet, maka Gunung Sindoro, Sumbing, dan Slamet memiliki julukan Triple S, tiga dari empat gunung tertinggi di Jawa Tengah yang berawalan huruf S.

Jalur dan Waktu Tempuh Pendakian Gunung Sindoro via Kledung

Dari basecamp menuju Pos 1, terdapat dua opsi untuk mencapai Pos 1; trekking seperti biasa atau pun menggunakan ojeg.

Saranku, lebih baik menggunakan ojeg bila buru-buru hendak berebut lapak untuk mendirikan tenda.

Apabila menaiki ojeg, biaya yang dikenakan adalah Rp 20.000 – Rp 25.000 per orang dengan waktu tempuh sekitar 10-15 menit.

Kondisi jalan cukup berbahaya, jadi jangan lupa meminta pengojeg untuk berhati-hati membawa motornya.

Bila ingin menikmati proses pendakian dari awal sampai akhir murni berjalan kaki, trekking seperti biasa tentu menjadi opsi yang tepat.

Yang pasti, sepanjang perjalanan masih diselimuti dengan perkebunan dan perumahan warga Kledung.

Pos 1 – Pos 2 (± 1 – 1,5 jam)

Menuju Pos 2, kondisi jalur pendakian mulai terjal dan sulit untuk dilalui. Bongkahan batu yang besar plus jalur yang berkelok harus dilalui.

Tidak melulu menanjak, jalur menuju Pos 2 juga ada naik-turunnya, jadi nikmati saja 😀

Pos 2 – Pos 3 (± 2 – 3 jam)

Dari Pos 2 ke Pos 3, pendakian ke Gunung Sindoro baru benar-benar dimulai. Jangan berharap treknya masih sedikit santai seperti di jalur sebelumnya.

Tingkat kemiringan sudah makin meninggi dan kondisi jalanan yang berbatu akan semakin menguras energi.

Belum lagi, Jarak dari Pos 2 ke Pos 3 terhitung jauh sehingga akan sangat menguras tenaga mengingat kondisi jalan memang makin sulit.

Pos 3 merupakan pos yang disarankan untuk mendirikan tenda. Selain areanya yang luas dibandingkan pos lainnya, Pos 3 juga lumayan tertutup dengan pepohonan sehingga lebih nyaman untuk bermalam.

Pos 3 – Sunrise Camp (± 20 – 40 menit)


Mendirikan tenda di Pos 3, menjelang malam

Bila kamu lebih suka menyaksikan sunrise langsung dari tenda, Sunrise Camp yang beradatidak jauh dari Pos 3 tentu sangat layak untuk dijadikan tempat bermalam.

Lokasinya cukup luas untuk menampung banyak tenda. Namun,area ini tidak terlalu tertutup oleh pepohonan sehingga kurang layak untuk dijadikan tempat bermalam yang nyaman.

Sunrise Camp – Pos 4 (± 1 – 2 jam)

Perjalanan menuju Pos 4 Area Batu Tatah Gunung Sindoro jauh lebih susah dari pendakian pos ke pos sebelumnya. Jalanan makin terjal dan bebatuan yang harus dilewati semakin luas.

Namun di sepanjang perjalanan, bila kamu memutuskan untuk summit attack saat subuh, pemandangan yang bisa kalian nikmati begitu indah. Sumbing di belakang seakan mengawasi dan menemani pendakianmu menuju Puncak Gunung Sindoro.

Pos 4 – Puncak Gunung Sindoro (± 1 – 2 jam)

Sebenarnya di Pos 4, meski memang areanya terbuka, cocok dijadikan tempat untuk menyaksikan sunrise sembari menikmati pemandangan Gunung Sumbing yang begitu dekat, Gunung Merbabu dan Gunung Merapi yang berhadapan hingga gunung lainnya di sekitar Jawa Tengah dari ketinggian.

Namun, jangan terlalu lama berhenti di Pos 4 karena tempatnya begitu terbuka. Tak jauh dari Batu Tatah, jalur pendakian yang begitu miring harus terus dilewati.

Kamu pun dipaksa untuk melewati “6 Tanjakan Penyesalan” yang super PHP. Aku pribadi mengira bahwa puncak hanya tinggal setanjak lagi, ternyata masih ada beberapa tanjakan lagi yang begitu curam yang harus didaki sebelum mencapai puncak.


Pos 4 Batu Tatah dari atas tanjakan

Di sepanjang perjalanan juga terdapat padang bunga edelweiss. Pokoknya sensasi pendakian Gunung Sindoro akan terasa semakin menyenangkan.

Puncak Gunung Sindoro 3153 Mdpl, Jawa Tengah

Setelah kurang lebih 9 jam efektif mendaki Gunung Sindoro, akhirnya tim pendakianku tiba di Puncak Gunung Sindoro meskipun tidak berbarengan.

Suasana di puncak begitu ramai ketika itu. Namun, karena beberapa kali beristirahat sembari menikmati sunrise di tengah perjalanan, kami tiba sekitar pukul 6:20 WIB dan harus segera mengakhiri ‘sesi selebrasi menggapai puncak’ karena gas sulfur yang begitu menyengat dan mulai mengganggu pernafasan.

Tak sampai 10 menit, setelah puas berfoto, kami pun memutuskan untuk segera turun. Arah angin ketika itu tidak terlalu baik sehingga gas sulfur dari kawah Gunung Sindoro yang masih aktif begitu mengganggu.

Kami juga tidak sempat mengitari kawah Gunung Sindoro. Sangat disayangkan tentunya. Tapi yang pasti, tim pendakianku pada hari itu menuntaskan misi untuk menaklukkan Gunung Sindoro di ketinggian 3153 mdpl.

Source: walterpinem.me

Instagram

Ketik Email Diceena:

Share |