Archive for the ‘Benteng Lo Iya – Batuawu’ Category

Di balik kepungan peradaban, ada satu hal yang patut kita kaji yaitu negeri sejuta kabut. Negeri tempat dimana sebuah Benteng di tubir bebukitan yang hampir tertimbun lumut. Yaitu sebuah Benteng yang dikepung oleh hutan hujan nan perawan. Hutan perawan yang pada pagi, siang, dan sore hari kerap berselimutkan halimun. Selimut halimun itu sendiri menyatu dengan kicauan burung Kepodang yang dalam bahasa Kabaena disebut Kungkurio.

Inilah Batuawu yang terletak di Selatan Kabaena, terdapat sebuah Benteng yang luput dari perhatian masyarakat Kabaena. Konon Benteng tersebut merupakan peninggalan Belanda yang pernah digunakan untuk pertahanan melawan tentara Jepang yang hendak menduduki Kabaena sekitar tahun 1941. Benteng yang kemudian dikenal dengan nama Benteng Lo Iya ini dapat di tempuh dengan berjalan kaki selama satu jam dari Batuawu.

Hijau adalah simbol dari kekuatan alam dalam meluluhkan rasa manusia. Coba rasakan saat anda berada di padang pasir yang luas, maka rasa anda akan meleleh. Saat anda berada di hamparan tanah gambut hitam yang luas, maka anda pun akan merasa risih. Tetapi saat anda berada di kehijauan yang luas maka kedamaianlah yang akan terasakan. Dan Kabaena mempunyai hal ini. Suatu hamparan luas berwarna hijau terpapar di lerengnya. Benar, inilah Kabaena Kampo Da Moico Hawano yang mengandung banyak situs sejarah diantaranya Benteng Lo Iya.



Benteng Lo Iya ini dikunjungi oleh team ekspedisi “Fajar, dkk” yang terletak di tengah hutan, dan di bawah selimut lumut nampak Benteng ini tak terawat. Benteng itu kecil, tersusun sederhana menggunakan batu granit. Letak benteng tersebut di lereng bukit yang agak terjal dan mengapit bebukitan dengan udara dingin tentunya.

Biasanya, para pengunjung Benteng ini adalah para pelajar yang ingin menikmati keindahan hutan atau para pencinta alam lokal yang melakukan riset terhadap keajaiban rimba Kabaena ini. Sebab menjelajahi kawasan hutan Batuawu tersebut sangat menyenangkan. Apalagi jika memulainya dari tepi Pantai Sangia Tabaro.


Tak perlu tenaga ekstra untuk mencapai Benteng Lo Iya karena rute tersebut relatif datar dengan sedikit jalan mendaki dan menurun. Beberapa kali kecil berair bening yang disebut Lebo memotong lintasan menjadi hiburan tersendiri. Dalam segarnya udara rimba yang beraroma dedaunan kering dan tanah humus, para pengunjung Benteng bisa menikmati rimbunnya aneka pohon angsana dan pohon aren. Ada pohon-pohon Meranti dan Beringin yang tinggi menjulang hingga puluhan meter.

Di jalan setapak menuju Benteng itu pula kerap dijumpai rontokan buah Jambu Mente yang berwarna coklat dan pecahan kulit buah Beringin yang menyampah di tanah setelah isinya habis dilumat primata atau kelelawar.


Tak hanya magisnya hutan hujan tropis yang dapat dinikmati di kawasan tersebut. Di Batuawu masih ada Pantai Lanere yang patut dikunjungi. Pantai Lanere ini sangat indah dengan pasir putihnya. Anda dapat menikmati konser suara satwa pemanjat pohon saat berpadu dengan kicauan aneka burung srigunting, atau gerutuan tekukur hutan, decitan burung kedasih, dan kicau kungkurio.

Memang, selain alamnya yang menakjubkan, Kabaena juga kaya akan jenis burung liar serta jutaan kunang-kunang di malam hari.

Dokumentasi Photo: Fatma – Jouzu
Instagram

Ketik Email Diceena:

Share |