Archive for the ‘Sungai Lampaku’ Category

Tersebutlah satu keluarga Sangia yang tinggal di kaki gunung Sabampolulu. Terdiri dari ayah yang bernama Lakambula, ibu bernama Lampaku dan anak bernama Lanapo. Suatu ketika pada musim semi keluarga ini tertidur pulas hingga tengah hari. Lanapo sang anak terbangun karena kelaparan dan membangunkan ibunya Lampaku. Antara Lanapo dan Lampaku bersepakat untuk pergi sejenak mencari makanan ke arah Enano bagian Timur Kabaena. Secara perlahan ibu dan anak ini menelusuri lembah dan bukit-bukit hijau sembari berbisik-bisik nyaris tak bersuara karena kuatir sang ayah Lakambula terbangun.

Selang beberapa jam akhirnya Lakambula terbangun juga dari lelapnya, melihat kanan kiri tak seorangpun disampingnya, baik anaknya Lanapo maupun istrinya Lampaku. Paniklah Lakambula, dengan sigap dan penuh kekuatiran ia berlari sekencang-kencangnya menuju arah barat Kabaena. Bukit-bukit terjal dilaluinya dengan penuh tenaga bahkan pohon-pohon yang sudah rapuh bertumbangan karena dahsyatnya Lakambula ini berlari. Hingga mencapai muara yang disebut Umala Vambano. Lanapo dan Lampaku tak ditemukannya. Inilah sepenggal kisah dari alunan tembang Mekada.

Lampaku adalah salahsatu anak sungai yang terbesar kedua setelah Lakambula. Airnya cenderung tenang tak sederas Lakambula. Melihat pesonanya pasti ingin melompat ke dalam air sungai jernih bening. Pasti terasa segar. Dengan membawa keluarga untuk bermandi-mandi. Bermain air bahkan berlomba mencapai batu besar di tengah sungai akan membawa suasana riang yang tak terlupakan.

Terlihat pengunjung Lampaku bercanda dalam air bahkan bermain ban-ban seperti anak-anak kecil. Ya, kembali menjadi seperti anak kecil itu selalu menyenangkan. Tidak ada kesedihan, tidak ada kekuatiran dan kecemasan. Yang ada hanya kegembiraan. Dan saat momen itu akan benar-benar memasuki lagi dunia masa kecil. Sedangkan pada tepian Lampaku masih hijau tertata pepohonan rindang. Kicau burung-burung, desahan angin pada daun-daun, dan ranting-rating pohon, suara air sungai mengalir, menjadi musik alam yang indah dan romantis melatari ekspresi-ekspresi suasana hati pengunjung yang melengkapi kepuasan jiwa.

Pesona Lampaku yang terbentang antara Manuru dan Enano memang menakjubkan. Tidak ada yang perlu ditakutkan di sini. Lihat kembang-kembang hutan itu memekar untuk menyambut kedatanganmu. Dengar nyanyian burung-burung itu yang tembangkan simponi semesta menyambut kehadiranmu. Di sini tidak ada ketakutan akan adanya harimau sebab Kabaena tak dihuni raja hutan itu. Yang ada hanya kebahagiaan dan keceriaan.

Lampaku yang eksotis diantara rimbunan pepohonan dan kejernihan air sungainya menegaskan jika tempat ini belum terkontaminasi oleh limbah dan layak dijadikan tujuan wisata anda.

Instagram

Ketik Email Diceena:

Share |