Archive for the ‘Moronene Sejumput Kisah’ Category

Di ujung tenggara Sulawesi, terbentang lembah di Pulau “Da Moico Hawano” nan cantik dengan sungai Lakambula yang meliuk-liuk di tengahnya. Menjulang pegunungan Sabampolulu dan Batusangia, Lembah Padalere menjadi saksi harmonisnya alam Kabaena dengan suku Moronene sebagai penghuninya.

Terpukau memandang alamnya, takjub dengan lembah tak terjamah yang terbentang di bawahnya. Tak henti penikmat alam nan permai ini berdecak kagum melihat hamparan ladang hijau di antara Sangia Wita.

Inilah daratan Kabaena, yang menyajikan sungai dan lembah yang mengagumkan bagai lukisan Tuhan yang tak tergambarkan kata-kata untuk memuji pesonanya.

Berada di tengah dataran Kabaena, alamnya membentang di ketinggian 1.000 mdpl. Sungai Lakambula yang membelahnya ber-hulu di sebelah Timur Pegunungan Sabampolulu. Air sungai yang dingin ini lalu melaju makin rendah, melewati bebukitan dan ladang, hingga menuju muara yang disebut Vambano.

Terlihat bentangan air dari Sungai Lakambula yang menyatu dengan pepohonan rindang dari kejauhan. Arusnya terus melaju turun, hingga nantinya menghilir ke laut terarah ke Pulau Sagori. Dan sepanjang perjalanannya, air sungai ini jadi berkah bagi masyarakat yang tinggal di sana yaitu Suku Moronene.

Suku Moronene adalah salah satu dari sekian banyak kelompok masyarakat adat di Sulawesi Tenggara. Di kaki pulau yang mirip huruf K ini ada suku Tolaki, Muna, dan Wolio, Wawoni, Moronene, Kalisusu, Ciacia, serta Wakatobi.

Moronene adalah suku asli pertama yang mendiami wilayah itu. Namun, pamornya kalah dibanding suku Tolaki karena pada abad ke-18 kerajaan suku Moronene yang luas wilayahnya hampir 3.400 kilometer persegi kalah dari kerajaan suku Tolaki.

Kata “moro” dalam bahasa setempat berarti serupa, sedangkan “nene” artinya pohon resam, sejenis tumbuan paku yang biasanya hidup mengelompok. Kulit batangnya bisa dijadikan tali, sedangkan daunnya adalah pembungkus kue lemper. Resam hidup subur di daerah lembah atau pinggiran sungai yang mengandung banyak air. Sebagai petani, dan pemburu, suku Moronene memang hidup di kawasan sumber air. Mereka tergolong suku bangsa dari rumpun Melayu Tua yang datang dari Hindia Belakang pada zaman prasejarah atau zaman batu muda, kira-kira 2.000 tahun sebelum Masehi.

Tidak diketahui kapan tepatnya suku Moronene mulai menghuni kawasan Kabaena. Dan yang pasti adalah para Mokole yang pernah hidup di Kabaena pada abad ke 14 menggunakan bahasa Moronene dalam berkomunikasi terhadap rakyatnya.

Indahnya memandang lembah dari ketinggian, liukan sungai Lakambula dengan air penyedia kehidupan, serta suku Moronene yang menjaga keseimbangan alam. Tak ada satu pun yang boleh terlewat ketika Anda berada di dataran Kabaena. Anda harus melihat dan merasakan sendiri kesejukannya. Yaitu lembah Padalere yang keberadaannya memukau mata memandang.

Kunjungi Kabaena, dan kenalilah harmonisasi alam serta budaya suku Moronene yang ramah dan bersahaja.

Instagram

Ketik Email Diceena:

Share |