Bagi masyarakat kabaena, sungai adalah elemen penting bagi kehidupan, terutama sebagai sumber air minum. Setiap saat kita akan menyaksikan anak-anak menenteng jerigen atau wadah lain menuju sungai di sepanjang aliran Lakambula untuk mengambil air. Sejuk dan bening. Jika kita mencicipinya terasa manis dan menyegarkan.


Lakambula dengan airnya yang Bening


Lakambula yang tampak ada Lovi

Sungai lakambula jika di rawat dengan baik oleh semua warganya tentu akan membawa keuntungan ganda. Selain untuk kebutuhan air minum juga dapat dijadikan obyek pariwisata.


Sampah berserakan di Sungai lakambula yang dibuang oleh warga


Pemandian Rahavado dengan tumpukan sampah warga

Lihatlah gambar diatas kita miris melihatnya. Ini terjadi di pemandian Rahavado Astova Teomokole.

Kebiasaan membuang sampah di sungai memang sudah menjadi kebiasaan. Dengan peringatan model apapun sepertinya sudah tidak digubris lagi oleh orang-orang yang memiliki kebiasaan buruk tersebut. Selain menimbulkan pencemaran, membuang sampah di sungai juga bisa menimbulkan bencana banjir karena sampah bisa menyumbat saluran air ataupun membuat sungai menjadi dangkal.

Mari, budayakan Buang Sampah Pada Tempatnya. Jadikan Sungai lakambula sebagai sarana air bersih dan tempat pemandian yang nyaman.

12 Responses to “Lakambula Bukan Tempat Sampah”

  • Miss. Jouzu:

    Buat Syafruddin :
    Sepengetahuan saya, smua warga Astova punya tong/bak sampah karena barang itu pasti disuruh bikin tiap mau lomba desa. Tapi ironis memang barang itu hanya pajangan belaka. Karena sampai detik ini miano astova dohosi mohaviako rengko hai viri eE. Terutama hai pampa jambatano bapaknya Mina

  • Miss. Jouzu:

    Yang harus memulai menyadarkan orang astova agar TIDAK membuang sampah dipinggir kali adalah orang astova sendiri. Karena sampai detik ini orang astova masih membuang sampah (segala jenis sampah ) hai viri eE

  • Miss. Jouzu:

    Yang Harus memulai menyadarkan warga Astova agar TIDAK membuang sampah hai viri lakambula, samoi-moicono kua harus miano da mebinta hai Astova. Karena kunantoOrio toUo pangampeno miano astova.
    Sampai detik ini miano astova dohosi mohaviako rengko hai viri lakambula. Sepanjang sungai (apalagi dibagian jembatannya bapaknya Mina) disitu segunung sampah akan menyambut anda ketika akan menyeberang ke Astova. Mulai dari sampah dapur hingga pampers balitanya mereka saya lihat.
    Bull shit memang

    • andy:

      Perlunya ada edukasi warga miss agar menyadari pentingnya membuang sampah pada tempatnya

      • Miss. Jouzu:

        Perlunya ada yang Mengedukasi….
        Hmmmmmmm nice comment and good idea.
        Yang patut dipertanyakan adalah semua orang astova adalah orang berpendidikan
        Dan saya tahu semua pelaku yg membuang sampah di pinggir kali adalah warga yang tinggal di pinggir sungai.
        Yang lebih mengherankan lagi. Pembuangan akhir septic tanknya bahkan ada yg diarahkan ke lakambula.
        Menyedihkan memang tapi itulah yg terjadi sekarang.
        Tidak perlu diedukasi karena smua adlah sarjana

  • Syafruddin:

    Buat tempat/bak/tong, dll, untuk pembuangan sampah…. lalu…buanglah sampah pada tempatnya….kalau tidak ada tempat khusus….maka….. semua sudut kampung bisa menjadi tempat buang sampah…. Mesti ada yang memulai. Siapa???

    • kabaena:

      betul sekali bang. Saya pikir ada seseorang yang memulai untuk mengedukasi warganya. Dan org yang tepat adalah ketua RT/RW atau Kepala Desa.

      • Syafruddin:

        Ya…semoga saja…dan tidak hanya sampah, meracuni sungai dengan dalih mencari udang juga mesti dilarang keras, jika perlu tindakan ini dilaporkan ke kepolisian sebagai kriminal karena meracuni sumber air bersih. Dulu, sungai ini banyak sekali udang, saya ingat kalau mau mandi, main-main dulu morako anahopi (anak udang atau sejenis udang kecil), tapi sekarang tidak ada lagi, ini akibat racun. Mudah-mudahan generasi kita selanjutnya semakin sadar dan mengelola lingkungan dengan bijak.

        • kabaena:

          sebenarnya masyarakat Kabaena adalah masyarakat yang mudah mengikuti anjuran baik cuman ketidak mengertian saja karena mereka yang tinggal dari kecil hingga tua di Kabaena tak melihat kenyataan diperkotaan yang sangat kekurangan sumber air minum yang bersih semacam lakambula ini.

  • alika:

    Buanglah sampah pada tempatnya hhehehe….

  • rheza:

    ini soal kebiasaan. Perlu kesadaran pada diri sendiri. mari budayakan kebersihan. lakambula perlu kita pelihara bersama sebagai sumber kehidupan

  • Gali:

    mana, hat nuranimu, mana wibawamu, mana kesejukanmu, mana kehidupanmu, ayo selamatkan lakambula.

Leave a Reply

Instagram

Ketik Email Diceena:

Share |