Camp Annapurna di Nepal. FOTO/Istock

Annapurna Base Camp (ABC) berada di ketinggian 4.130 mdpl, lebih tinggi dari Puncak Mahameru di Jawa atau Rinjani di Lombok, tapi sedikit lebih rendah dari Puncak Carstensz Pyramid, Papua. ABC salah satu destinasi jalur pendakian di barisan Pegunungan Himalaya yang tak kalah tersohor dengan Everest Base Camp.

Perjalanan ke Annapurna Base Camp adalah mimpi saya dan suami sejak sebelum menikah. Akhirnya mimpi itu kesampaian, pada 7 April 2017 kami terbang ke Nepal. Pilihan jatuh pada April karena salah satu waktu terbaik melakukan pendakian di ABC. Suhu udara tak terlalu dingin, tidak juga terlalu panas, dan yang paling penting, tak ada angin Monsoon.

Tak ada penerbangan langsung dari Jakarta ke Kathmandu, ibu kota Nepal. Penerbangan ke Kathmandu, harus transit di Kuala Lumpur. Masih di hari yang sama, kami tiba di Kathmandu jam sembilan malam waktu setempat, satu jam lebih lama dari Jakarta. Untuk turis dari Indonesia, pembayaran visa dilakukan di konter visa on arrival di bandara. Tarifnya $25 untuk 15 hari.

Dari Bandara International Tribhuvan, kami naik taksi ke Thamel. Tarif taksi rata-rata dari Bandara ke Thamel adalah 700 rupee, tetapi di atas jam 8 malam, seluruh tarif taksi naik 100 rupee. Selama perjalanan, ada satu orang guide yang terus menerus menawarkan jasa dengan sedikit berbohong.

Ia bilang, untuk mendaki ABC, harus pakai guide, jika tidak, harga makanan dan kamar akan dua kali lipat lebih mahal. Kami tak langsung percaya dan memang terbukti tidak benar. Harga kamar dan makanan sama saja, dengan atau tanpa guide. Kami memilih jalan sendiri, tanpa guide tanpa porter. Selain karena alasan penghematan, jalur pendakian ke ABC berdasarkan informasi yang kami dapat cukup jelas dan kami tak perlu membawa banyak barang.

Sekitar 30 menit perjalanan dari Bandara, kami sudah tiba di hotel di Thamel. Thamel adalah kawasan turis, jadi tak sulit menemukan hotel di kawasan ini. Keesokan harinya, sekitar jam 6.30 pagi, kami berjalan ke Kanti Path untuk mencari bus ke Pokhara. Kanti Path ini bukanlah terminal bus. Ia hanya nama jalan, dan di jalan itulah setiap pagi, puluhan bus tujuan Pokhara terparkir. Tarif bus Kathmandu-Pokhara sekitar 700 rupee. Butuh waktu sekitar delapan jam untuk bisa sampai ke kota itu.

Pokhara adalah kota terbesar kedua setelah Kathmandu, ia menjadi pintu masuk untuk pendakian kawasan konservasi Gunung Annapurna. Kami sengaja tak mau berlama-lama di Kathmandu yang padat dan berdebu. Udara di Pokhara jauh lebih baik, sejuk dan minim polusi. Kota itu juga tenang, dengan pemandangan Danau Pehwa dan Puncak Annapurna.

Sebelum melakukan pendakian, para pendaki harus mengantongi izin dari otoritas setempat. Lokasi mengurus izin ini tak jauh dari terminal bus di Pokhara. Untuk bisa mendapatkan izin, para pendaki harus membayar 4.000 rupee per orang, ia sekitar Rp500 ribu.

Setelah menginap satu malam di Pokhara, kami harus naik bus lagi selama tiga jam ke Kimche, salah satu desa di kaki Annapurna. Dari Kimche lah pendakian dimulai. Kimche bukan satu-satunya pintu masuk pendakian. Ada desa-desa lain seperti Pedi atau Siwai. Kami memilih Kimche karena jaraknya ke desa selanjutnya—Ghandruk—relatif dekat, hanya satu jam jalan kaki.

Mendaki jalur Annapurna Base Camp tak seperti mendaki gunung-gunung di Indonesia, yang mengharuskan membawa tenda dan bahan makanan. Pendakian ke ABC sejatinya adalah perjalanan dari desa ke desa. Ada penginapan dan restoran di tiap desa. Jadi, barang bawaan yang perlu dibawa praktis hanya pakaian dan obat-obatan. Tak membawa kantung tidur atau sleeping bag pun tak apa karena tiap penginapan menyediakan selimut. Tetapi, membawa sleeping bag akan menambah hangat.

Ghandruk berada di ketinggian 1.940 meter di atas permukaan laut (mdpl), suhu di desa ini sudah cukup dingin. Tetapi harga makanan dan penginapan masih relatif murah. Harga kamar tempat kami menginap hanya 200 rupee, sekitar Rp25 ribu. Harga itu sudah termasuk hot shower. Semakin tinggi, harga kamar dan makanan semakin mahal.

Keesokan harinya, jam 7 pagi kami melanjutkan perjalanan ke Chomrong. Menurut papan informasi, perjalanan Ghandruk-Chomrong rata-rata ditempuh dalam waktu enam jam. Tetapi kami menghabiskan delapan jam. Chomrong berada di ketinggian 2.140 mdpl. Ia terletak di bukit yang berbeda dengan Ghandruk. Kami harus melewati dua desa lain, Komrong Danda dan Kimrong Kola.

Jalur pendakian dari Kimrong Kola ke Chomrong termasuk jalur tersulit. Kimrong Kola terletak di tepi sungai, di bawah bukit. Sementara Chomrong ada di atas bukit. Itu artinya, para pendaki harus melewati jalur yang menanjak, melewati banyak tangga dan bebatuan. Dua desa itu tak berada di satu bukit yang sama. Jadi selain menempuh jalur tanjakan, para pendaki juga harus mengitari bukit.

Chomrong termasuk desa favorit para pendaki. Ada 15 penginapan di desa itu, jadi kami tak perlu khawatir kehabisan kamar. Dibandingkan Ghandruk, harga kamar di Chomrong memang lebih mahal. Kami membayar 400 rupee untuk satu kamar.

Menu makanan di Chomrong lebih beragam dibandingkan dengan desa-desa lain. Ada pula beberapa kedai kopi dan roti di desa itu. Pemandangannya pun cukup indah, di pagi hari, puncak Gunung Marchapurche dan Annapurna yang berbalut es terlihat jelas.

Bukan itu saja, Chomrong adalah desa terakhir yang memberikan air panas gratis untuk mandi. Di desa-desa selanjutnya menuju ABC, harga mandi dengan air panas lebih mahal dari harga kamar per orang.

Dari Chomrong, ada enam desa lagi yang harus dilewati para pendaki untuk mencapai ABC, yaitu desa Sinuwa, Bamboo, Dovan, Himalaya, Deurali, dan Marchapurche Base Camp (MBC). Setelah Chomrong, kami berencana menginap di Dovan, tetapi kaki saya sedikit mengalami masalah dalam perjalanan dari Sinuwa ke Bamboo.

Kapalan di jari-jari kaki saya terasa perih sekali meski sudah dibalut plaster. Akhirnya, kami memutuskan berhenti di Bamboo karena kami juga mendapat kabar kalau penginapan di Dovan sudah penuh. Ternyata, di Bamboo, kami pun tak mendapat kamar. Ruang makan malam yang kerap menjadi tempat tidur darurat pun sudah penuh. Selain kami, ada sepasang kekasih dari Equador yang juga tak mendapat kamar.

Di desa selanjutnya, penginapan juga sudah penuh. Minggu kedua April tahun 2017 ini, ABC memang sedang ramai pengunjung. Dalam sehari, ada sekitar 255 pendaki melapor di pos yang terletak di Chomrong. Kebetulan, awal April lalu bertepatan dengan libur panjang di Thailand. Ada banyak sekali pendaki asal Thailand yang kami temui sepanjang perjalanan.

“Kalau kalian berempat, kalian bisa tidur di situ, ” ujar seorang lelaki sambil menunjuk gubuk berukuran 4×4 meter. “180 rupee per orang, tapi tak ada selimut,” katanya.

Gubuk yang ditunjuk lelaki itu adalah ruangan bekas dapur. Kerak hitam bekas asap masakan dan minyak di dinding tepas dan atapnya tampak sangat jelas. Di atas meja, berjajar puluhan kol-kol yang menghitam, hampir busuk. Lantainya pun hanya tanah. Ada empat kasur di atas tanah yang dilapisi terpal hanya di bagian kasurnya saja. Bau ruangan itu adalah aroma khas tanah dan kayu lembab bercampur kol busuk dan kasur apek. Tetapi kami tak punya pilihan lain.

Sejak kaki saya terasa semakin perih, kami memutuskan berjalan hanya empat sampai lima jam saja sehari. Dari Bamboo, desa tujuan kami selanjutnya adalah Himalaya yang berada di ketinggian 2.920 mdpl. Hanya ada dua penginapan di desa ini, dan kami nyaris tak mendapat kamar. Si pemilik penginapan memberikan kamar setelah saya bilang kaki saya sakit dan tak bisa melanjutkan ke desa selanjutnya.

Semakin ke atas, harga makanan semakin mahal. Di Himalaya, harga nasi goreng pakai telur sekitar Rp50 ribu. Padahal, di Ghandruk, hanya Rp25 ribu. Tetapi porsinya memang cukup banyak, dua kali porsi nari goreng di Indonesia. Dari Himalaya, kami berjalan menuju MBC. Bagi saya, jalur pendakian dari Himalaya ke MBC adalah jalur dengan pemandangan paling indah. Puncak gunung berlapis salju tampak semakin dekat. Bukit-bukit bebatuan, sungai, dan beberapa jalur es membuat perjalanan terasa lebih seru dari sebelumnya.

Meski begitu, saya berjalan lambat sekali. Udara dingin dan oksigen yang menipis membuat saja kesulitan bernapas. Saking lambatnya, seorang nenek tua dari Perancis bernama Veronika yang berusia 62 tahun dan jalan sendirian bahkan menyalip saya di perjalanan.

MBC adalah desa terakhir sebelum ABC. Ia berada di ketinggian 3.700 mdpl. Saat kami di sana, suhunya -6 derajat. Banyak pendaki yang tak kuat dengan suhu dingin, memilih menginap di MBC, lalu jalan ke ABC pagi-pagi sekali, menghabiskan sekitar satu jam di sana, berfoto di Plang ABC sebagai penanda, kemudian turun lagi.

Annapurna Base Camp berada di ketinggian 4.130 mdpl. Ia lebih tinggi dari puncak Semeru dan Rinjani di Indonesia. Itu baru base camp nya saja, belum puncak Annapurna. Puncak Annapurna berada di ketinggian 8.091 mdpl. ABC saja, sudah dipenuhi es. Sekitar 95 persen jalur dari MBC ke ABC adalah jalur pendakian penuh salju.

Saat di MBC, kepala saya sakit sekali. Tubuh saya juga menggigil kedinginan. Saya memutuskan tak melanjutkan perjalanan ke ABC, dan menunggu di MBC. “Lebih baik begitu, istirahat saja, jangan memaksakan diri, lagipula pemandangan di sana [ABC] sama saja seperti di sini,” ujar Krisna, salah satu guide yang bermalam di satu penginapan dengan kami.

Jam lima pagi, suami yang menjadi teman berjalan melanjutkan perjalanan ke ABC bersama beberapa pendaki lainnya, termasuk Krisna. Perjalanan dari MBC ke ABC memakan waktu dua jam. Sementara untuk arah pulang, hanya satu jam. Saya menikmati pagi di MBC, udara cerah sekali pagi itu.

Dari halaman di depan penginapan, saya bisa melihat sungai yang mengalir, yak yang berjalan pelan di bukit batu, puncak Annapurna dan Puncak Gunung Marchapurche. Semua lelah terbayar sudah. Saat itu, perjalanan kami tentu belum selesai, kami butuh empat hari lagi untuk bisa kembali ke Pokhara.

ABC hanya pijakan awal atau base camp untuk menggapai titik tertinggi barisan Gunung Annapurna yang menjulang. Mimpi dan hasrat tentu ingin menggapai puncaknya, tapi sadar dengan keterbatasan diri, bisa menjajaki ABC sudah sebuah pengalaman dan pelajaran berharga.

“It’s not the mountain we conquer but our selves,” kata Sir Edmund Hillary, orang pertama yang tercatat resmi menapaki Puncak Everest.

source: tirto.id

Leave a Reply

Categories
Instagram

Share |