Vaipode tangasa momone Salada

Fajar belum menyingsing, dan langit belum lagi menampakan birunya saat dua Vaipode sedang memulai aktivitas menuju Olondoro. Dari Teomokole menyebrangi Lakambula menuju dusun Astova dengan ransel dipunggung melangkah mantap diantara rimbunan pohon-pohon yang tumbuh di kiri kanan jalan setapak yang mereka lalui. Sementara para pembuat gula aren terlihat samar-samar bergegas menuju Bantea untuk mengambil Tine dan pergi Mosesei.

Terlihat juga di pagi buta itu beberapa orang bertubuh kuning langsat tegap berjalan dengan korobi di pinggang. Diikuti oleh puluhan ekor anjing yang nampaknya sudah terbiasa berburu. Seorang di antara laki-laki tegap tadi tampak menyandang pandanga di tangan. Ini adalah pemandangan yang biasa di pedalaman Kabaena – khususnya di perkampungan yang memiliki hutan-hutan lebat serta savana yang luas. Inilah salahsatu rutinitas masyarakat Kabaena yang disebut Dumahu.

Menelusuri jalan setapak berliku memang menyenangkan. Kabaena yang menawarkan alam yang indah dan sejuk bukan isapan jempol belaka. Kekayaan dan keberagaman flora dan fauna gunung-gunungnya merupakan oase kehidupan bagi bumi yang telah semakin rusak ini. Dan ini himbauan bagi masyarakat yang mendiami bumi Kabaena agar menyayangi semua eksotisme yang ada supaya terus lestari. Setidaknya anak cucu kita jangan hanya kebagian panorama Kabaena dalam kilas kisah saja. Biarkan mereka ikut menikmati betapa Kabaena merupakan hunian yang menyenangkan tiada tara.

Menuju Olondoro luar biasa mengagumkan jika melakukannya dengan berjalan kaki. Seperti Sri dan Fatma, sedari pagi menyelusuri jalan bebukitan yang dikiri kanan hanya terlihat pohon-pohon rimbun dan rumpunan pohon aren yang tumbuh liar. Sesekali melewati kebun-kebun jambu mente milik masyarakat Astova.

Olondoro memang hunian kecil dan terlihat tertinggal di berbagai sisi. Tapi dengan pemandangan yang dimiliki ditambah dengan perannya sebagai salah satu pemukiman tertua di Kabaena merupakan kepuasan tersendiri jika kita berhasil mengunjunginya. Olondoro memiliki potensi yang tidak terbatas jika bicara soal kesuburan tanahnya. Pemukiman yang teduh, dingin dan indah mempesona. Bukan hanya alamnya tapi juga manusianya yang ramah serta bersahaja.

Olondoro boleh dibilang unik. Ia memiliki sebuah sungai kecil yang membelah hunian itu dengan airnya yang bening dan dapat di minum langsung, rasanya menyegarkan. Selain itu udaranya yang benar-benar sejuk dengan suhu antara 15 derajat Celcius hingga 28 derajat Celcius. Sayangnya lokasi Olondoro yang sangat sulit dicapai dengan menggunakan roda empat tersebut membuatnya tertinggal dalam hal pemerataan pembangunannya dari PEMDA setempat. Mencapai Olondoro dapat ditempuh 1 jam 15 menit dengan berjalan kaki dari Teomokole. Ini perjalanan melelahkan jika tak terbiasa berjalan jauh seperti halnya Sri yang harus bersusah payah berjalan pulang setelah mengunjungi Olondoro. Sri terpaksa berjalan tertatih-tatih menggunakan tongkat. Berbeda dengan fatma yang sudah terbiasa, dengan entengnya mengayuhkan langkah sambil sesekali menoleh kebelakang melihat temannya Sri yang sedang beringsut perlahan.

Yang pernah melakukan perjalanan ke Olondoro seperti halnya Sri dan fatma, hampir dapat dipastikan berkeinginan untuk kembali ke tempat ini walaupun badan terasa penat dan melelahkan. Kabaena, dari jumlah penduduk mencapai 30 ribu jiwa dengan luas 890 juta m2, mungkin saja baru sebagian kecil yang sudah pernah melakukan perjalanan penjelajahan menuju Olondoro. Apakah anda salah satu diantaranya yang ingin merencanakan perjalanan ke Olondoro? Jika YA disarankan untuk membawa pisau lipat sebab jika beruntung anda akan menemukan Vuampana yaitu buah yang hampir punah serta sudah langka dan hanya berbuah pada musim penghujan sedangkan buah-buahan lainnya seperti jambu batu atau yang lazim disebut bulumalaka, bisa ditemukan sepanjang perjalanan.


Olondoro di atas bukit


Vuampana, buah langka yang hanya ditemukan saat musim semi di jalan menuju Olondoro


PogiliA Uti, alat penggilingan jagung manual untuk membuat labampuhu


Sungai kecil yang membelah Olondoro


Masjid Olondoro


Dalam keceriaan anak-anak Olondoro


Sri yang berpose saat perjalanan pulang dari Olondoro, terlihat sangat kelelahan


Buah Labu hasil ladang masyarakat Tokotua


Ayam Kampung peliharaan

Menuju Olondoro rasanya tidak pernah habis untuk dinikmati langkah demi langkah yang dilalui. Dan tidurlah yang cukup jika merencanakan perjalanan esok harinya menuju Olondoro agar badan jadi prima dan jangan lupa membawa pakaian pengganti. Seperti halnya Sri yang tidak melakukan persiapan, tidak mencapai rumah sepulang dari Olondoro karena tak mampu menuju rumahnya di vambanipa lantas bermalam di rumah fatma di Teomokole lantaran tak ada persiapan memadai.

Olondoro, kawasan pegunungan ini memang memiliki pesona dan keunikan saat kita mengunjunginya. Cerita dan canda yang melekat di dalamnya dalam perjalanan akan membawa kita kepada kata syukur pada Maha Pencipta atas bius ciptaannya yang mengagumkan.

20 Responses to “Olondoro Dengan Sejuta Kenangan”

  • Cardamom Product Large cardamom, also known as black cardamom or brown cardamom is the dried fruit of Amomum Sabulatum, a perennial herbaceous plant of family Zingiberaceae and its quality characteristics are different from that of small cardamom or green cardamom (Sukmel in Nepali). Large cardamom is abundantly grown in Nepal, thus it is also known as Nepali cardamom (Elaichi in Nepali). Large cardamom was introduced into Ilam (Nepal) in 1865 AD, by Nepalese laborers. They used to go to Sikkim for seasonal work. However, commercial cultivation started in Ilam much later in around 1953 AD only.

    The establishment of Cardamom Development Centre at Fikkal in this district in 1975 paved the way for the development of this crop. Today large (Black) cardamom is grown only in three countries namely India, Nepal and Bhutan. Since the conditions are conducive for cardamom production in the eastern hill districts of the country, there is an increasing trend of farmers engaged in its cultivation. Most of the cardamom producing areas is located in Ilam, Panchthar, Taplejung, Sankhuwasabha, Terhathum, Bhojpur and Dhankuta districts. Today the area has expanded to include more than 37 districts covering all development regions of the country. Large (Black) cardamom is used as flavorings food and drink, as cooking spices and as a medicine. Cardamom is used as a spice, and in medicine; it is also smoked sometimes. Cardamom has a strong, unique taste, with an intensely aromatic, resinous fragrance. Black cardamom has a distinctly more Smokey, though not bitter, aroma, with a coolness similar to mint. It is a common ingredient in Indian cooking and is often used in baking in Nordic countries, such as in the Finnish sweet bread pulla or in the Scandinavian bread Julekake. In the Middle East, cardamom powder is used as a spice for sweet dishes, as well as traditional flavoring in coffee and tea. Cardamom is used to some extent in savoury dishes. In South Asia, cardamom is often used in traditional Indian sweets and in tea. Cardamom is sometimes used in garam masala for curries. It is occasionally used as a garnish in basmati rice and other dishes. Individual seeds are sometimes chewed and used in much the same way as mouth refresher. It is even used by confectionery; its Eclipse Breeze Exotic Mint packaging indicates that it contains “Cardamom to neutralize the toughest breath odors”. It has been known to be used for gin making and in tisanes.

    Use of Cardamom as Traditional Medicine:

    Cardamom is broadly used in South Asia to treat infections in teeth and gums, to prevent and treat throat troubles, congestion of the lungs and pulmonary tuberculosis, inflammation of eyelids and also treat stomach issues, constipation, dysentery, and other digestion problems. It also is used to break up kidney stones and gall stones, and was reportedly used as an antidote for both snake and scorpion venom. Cardamom is used as an ingredient in traditional medicine in systems of the traditional Chinese medicine in China, in Ayurveda in Nepal, India, Pakistan, Japan, Korea and Vietnam.

  • Trimakasih semuanya yang sudah, yang belum maupun yang akan menyambangi kampung mungilku OLONDORO, kalau ke olondoro sekarang bisa naik kendaraan roda dua ataupun roda empat untuk jalur teomokole, batuawu dan tandoenga (rahadopi). Tapi kalau dari Rahadopi truck tidak bisa lewat karena ada palang permanen yang dipasang, kalau roda dua sama opencup bisa lewat juga jembatan penyeberangan dilakambula (polea dari rahadopi) sudah bisa dilewati tapi hanya motor yang bisa lewat, mohon dukungan dan do’anya semoga kedepannya mobil bisa melewatinya tanpa menyentuh air.. tarimakasih eaa lufumiu daari tealo onto kami hi olondoro.

    • terimakasih. Jika ada foto dan video terbaru OLONDORO bisa kirimkan pada kami untuk kami upload di portal ini

  • Ini desa sejuta mimpi. Jika ada kesempatan saya akan ke olondoro. Thanks infonya !!!

  • Miss. Jouzu:

    Again
    Ada yg terlupa ditulis /dimasukan di artikel diatas adalah keberadaan punti vatu di sekitar jalan menuju olondoro ( 3 km dari teomokole). 10 tahun lalu ketika saya kesana kumpulan punti vati itu masih ada. Sekarang ini waktu kami kesana, punti vatu itu sdh tidak ada lagi.
    Bad news of course

  • Miss. Jouzu:

    For all visitors this portal : Jangan lupa kalo ke Olondoro harus bawa ikan kering sebagai buah tangan buat warga disana. Karena ikan adalah barang yang sulit ditemukan disana.
    A big thanks for your comments.

    • andy:

      Benar banget miss, sebagai rasa persaudaraan dan tentu budaya membawa oleh2 bagi masyarakat atau keluarga yang kita kunjungi merupakan budaya mbue2nto sejak dulu

  • arifin tokotua:

    aku jadi pengen cicipi buah vuampana dari kabaena (olondoro,rahadopi,smuax dah yg jlas dri tokotua

  • darusman:

    pemandangannya seperti suasana Puncak – Bogor. semoga tak tercemar limbah tambang kedepannya dan tetap menjadi kampung yang asri

  • mei:

    ternyata masih ada vuampana ya. saya sendiri tak pernah melihatnya lagi buah ini yang rasanya manis pedas semacam mint

  • Syaf:

    Tks banyak artikelnya, ini informasi menarik buat orang kabaena yang belum pernah ke Olondoro. Tapi ada beberapa masukan, Astova adalah salah satu dusun di Teomokole, namanya Rarontole. Vuampana tidak berbuah sepanjang musim, ia hanya berbuah di musim penghujan, selain itu, tumbuhan ini sudah sulit ditemukan sekarang. Sungai di olondoro tidak manis, rasanya biasa saja seperti air umumnya. Maaf, ini sharing saja biar artikel ini tidak terkesan hiperbola.

    • kabaena:

      koreksi yang baik. segera di-edit

      • Syaf:

        Tks. Salut buat Admin….Anda penulis yang baik.

  • Gali:

    seandainya aku punya jempol 8 aku angkat semua deh buat penulis plus fotografernya yg di kabaena, ayo berkarya terus………….

  • uzia:

    aq ingin makan vuampana itu. teringat waktu masih SD sering ke hutan dekat olondoro nyari vuampana

  • waaa__ saya orang kabaena tidak pernah ke olondoro__
    terimakasih buat si penulis

    • kabaena:

      Jangankan ke olondoro bro, ak sendiri blm pernah ke kabaena hehehhh tapi ak cinta kabaena dan terus menulis tentang eksotisme kabaena. Dan ak bersyukur untuk semua narasumber baik itu berupa gambar maupun data

  • radith:

    Salut nih kedua vaipode itu. Jalan menuju olondoro harus melalui jalan setapak berbeda dengan menuju rahadopi dapat di tempuh menggunakan roda empat dari teomokole. Padahal olondoro tak jauh dari rahadopi secara geografis

  • amaliyah:

    Te sesengka bada lako vita hahahahahahaha. Dohosi mooe kambu sampe di kana-kana

  • vini:

    ya ampunnnn jalan kaki ke olondoro? bisa tepar tuh di jalan :)

Leave a Reply

Instagram

Ketik Email Diceena:

Share |