Pendakian Gunung Latimojong sebagai gunung tertinggi di Sulawesi telah lama saya rencanakan, namun terus menerus ada kendala sehingga tertunda beberapa kali. Hingga akhirnya, rasa penasaran dengan trek pendakian Latimojong yang masuk dalam 5 gunung ter-ekstrem di Indonesia, tuntas dengan sehat dan selamat.

Tulisan ini, saya peruntukkan untuk semua pendaki gunung dan pecinta alam dalam komunitas kami, Eternal Adventure Team dan para pendaki Team Tiga Dewa Adventure yang terkumpul dalam berbagai daerah dan kota. Terimakasih telah bertandang di beranda pendakian gunung Latimojong. Semoga kenangan pendakian kita kan menjadi persaudaraan kebersamaan mengelilingi gunung lainnya di Indonesia. Aamiin..

—–

Pendakian Atap Sulawesi, Gunung Latimojong sebenarnya sudah kami beritakan di grup Eternal adventure Team. Namun, yang memastikan akan berangkat hanya 6 orang dan lainnya memiliki alasan dan kendala sehingga kali ini, belum bisa bergabung.

Perjalanan kami mulai siang itu, dari Kajuara menuju Bone, diikuti gerimis dan hujan deras setelah dhuhur hingga menjelang ashar. Tiba di Bone, Ayyub memastikan motor dalam keadaan baik dan peralatan lainnya tidak tertinggal satu pun. Kami harus menunggu Zulfikar untuk mengambil beberapa perlengkapan tambahan. Ima telah prepare lebih dulu dan saya pun menggunakan waktu untuk shalat Ashar serta sujud persembahan pada-Nya, agar perjalanan kami diberikan keberkahan.

Fikar, berdiri didepan kamarku. Bisa kubayangkan perasaannya setelah 6 bulan tanpa tatap muka dengannya dan kini saya berdiri di sana. “Kayak mimpi kurasa melihat Etta, berdiri didepanku..” katanya berkaca-kaca. Pendakianku kali ini terasa berbeda. ada euforia kebahagiaan yang meluap saat memastikan bahwa Zulfikar, akan ikut menyertaiku. Setelah 6 bulan, dia vakum dalam dunia pendakian, dan kini kami akan bertualang bersama lagi. “Apakah kamu pernah ke Gunung Latimojong?” tanyaku dan dia mengatakan belum. Baiklah. “Saya akan memberimu hadiah pendakian Gunung Latimojong. Kita akan menikmati kebebasan diatas sana sebagai hamba-Nya,” jawabku dan dia mengangguk tersenyum.

—–

Jam menunjukkan17.12 menit saat kami memutuskan untuk memulai perjalanan menuju Enrekang. “Apakah semuanya sudah berwudhu?” tanyaku dan mereka semua mengangguk. “Berusahalah untuk tetap dalam kondisi suci selama perjalanan kita. Apabila ada yang batal, maka berhentilah dan perbaharui wudhu dan kita jalan kembali..” kataku lagi.

Sepanjang perjalanan, gerimis dan sesekali hujan deras mengguyur hingga kami singgah di desa perbatasan Sengkang – Bone, untuk menunaikan shalat Magrib. Saat akan melanjutkan perjalanan, tiba-tiba Imam Masjid, datang kearah kami dan bertanya dari mana dan akan kemana?. Satu yang kutangkap setelah melihat anak-anak shalat berjamaah tadi, beliau berkata.. “Selamat ki semua Nak, sampai tujuan Ta..” doa beliau, sebagai tanda bagiku, bahwa perjalanan kami adalah keberkahan.

Jarak Watampone Sengkang kisaran 69 km, dan perjalanan harus berlanjut hingga Enrekang nantinya yang total jarak tempuh 179,9 km. Cukup beruntung, kami mendapatkan undangan makan malam sekaligus menginap dari salah satu wali alumni putri di daerah Sidrap. Lumayan, perjalanan 4-5 jam membutuhkan istirahat malam, untuk menambah amunisi tenaga keesokan paginya menuju basecamp pendakian Latimojong. Kami tiba di Sidrap, setelah gerimis di jam 22.21 WITA. Ustadzah Hartati dan orangtuanya, menyambut kami dengan prasmanan yang luar biasa. “Istirahatlah malam ini, besok kita packing barang dan pembagian beban bawaan,” kataku sambil menanti kedatangan Ridwan dan Taufik dari Makassar dengan titik point kumpul di rumah ini.

Team lengkap. Saat keluar kamar menjelang tahajjud malam, saya melihat mereka di depan kamarku, terkapar tidur kelelahan setelah perjalanan panjang. Jam 05.00 subuh, kubangunkan mereka semua untuk melakukan shalat berjamaah. Saat membuka mata, kata pertama kali yang mereka katakan adalah, “Etttaaa..” dan saya tertawa. “Bangunlah.. Fikar, jadi imam subuh ini..”

——

Jam 08.15 Wita, kami pamit dan memulai perjalanan kembali menuju Enrekang. Terimakasih Ustadzah Hartati dan keluarga, terimakaasih Nak. Perjalanan 94.8 km, masih panjang dengan banyaknya perbaikan jalan, kelokan serta tanjakan yang lumayan. Beruntung, semalam anak-anakku sudah istirahat dengan nyaman. Singgah di Bambapuang menikmati alam pegunungan dalam secangkir kopi yang tidak kental hingga chat masuk dari hp taufik, mengabarkan undangan lainnya dari salah satu alumni untuk beristirahat di rumahnya. Setelah berembuk, kami sepakat untuk bersilaturahmi di rumah Ustadzah Fadillah Janwar yang berada di Desa Bolang, dusun Parandean, buntu angin 1. Undangan ini kami terima, setelah memastikan dari orangtua Fadilah, bahwa jarak basecamp yang akan kami datangi, sudah cukup dekat dengan rumah mereka.

Sore setelah shalat ashar, kami kembali start melanjutkan perjalanan menuju Baraka dan kemudian diarahkan untuk menunggu team Tiga Dewa yang saat itu, start dari Makassar. Di Baraka, Eternal Team, berhenti untuk shalat jamaah magrib dan kemudian melanjutkan perjalanan menuju Basecamp Pecinta Alam Si Kolong. Disambut dengan rasa persaudaraan membuat cerita kami mengalir dalam canda tawa, dan basecamp berganti suasana riuh. Hingga pertanyaan tentang esensi alam, gunung, hutan dalam lintasan filsafat menjadikan malam itu terasa hangat. Percakapan dengan anak-anak di basecamp serasa mengembalikan titik kesadaran kami, untuk apa mendaki? Buat apa ke puncak?. Hingga salah satu dari mereka bertanya, Untuk apa Eternal Team berwudhu, sebelum mendaki?? Untuk apa Eternal Team mengucapkan tasbih di kaki gunung dan shalawat sepanjang jalan pendakian?? Untuk apa Eternal Team mengkhususkan doa dan memperbaiki niat sebelum mendaki?? dan saat pertanyaan itu, kujawab dan mereka berkata, “Terimakasih bunda, sudah mau berkunjung di basecamp kami, andaikan waktu berbincang lebih panjang…” dan Terimakasih juga Pecinta Alam Si Kolong untuk traktiran roti bakar dan martabaknya. Dan terimakasih telah mendengarkan ulasanku mengenai pendakian dan nilai spiritual kita. See U Next InsyaAllah..

——

Saya lupa, tepatnya jam berapa, ketika team Tiga Dewa Adventure datang menjemput di Si Kolong. Dua truk bak menunggu dan kami mengucapkan perpisahan pada anak-anak basecamp Si Kolong, bergabung dengan pendaki lainnya di mobil. Perjalanan malam itu, sangat berkesan. Selepas gerimis, sedikit becek dan kami harus melalui tanjakan dengan jurang dan jalan sempit di bawah sinar bulan yang remang. Dua truk beriringan dan peserta yang begitu ramai saling melengkapi cerita. Ayyub dan Ridwan, mengawasiku dari belakang karena lonjakan mobil yang tiba-tiba dengan jalan yang jauh dari kata mulus. Ima, didepanku yang berkali-kali mengganti posisi duduk tidak menentu akibat goncangan truk. Sementara Fikar dan Taufik berada di truk yang satu lagi.

Saya mulai mengenal Dokter Novia, Bu Nita, Mbak Intan, Daeng Ogizt, Bang Canro, Om Ono, Mas Eka dan yang lainnya.

Hampir 3 jam perjalanan dari Baraka menuju Basecamp Karangan. Mobil pendaki dari team lain, terjebak di tengah lumpur dan tidak dapat menanjak. Sehingga sebagian pendaki turun membantu. Tiba di Karangan, hawa dingin dan embun, menyeruak, membuat tubuh mulai menggigil. Villa pendaki diujung atas masih membutuhkan tenaga mendaki beberapa meter untuk beristirahat di basecamp. Lumayan juga, pemanasan yang apik ditengah malam, mata ngantuk dan dingin.

Beberapa pendaki laki-laki menggunakan kesempatan malam untuk menikmati seduhan kopi di tengah dingin bersama rokok mengepul sebagai penghangat sesaat. Suara aliran sungai dari depan basecamp, terlalu merdu untuk menjadi pembuai tidur malam.

“Beristirahatlah semua dan jangan lupa berwudhu sebelum tidur..” kataku pada Eternal Team. “Etta, bolehkah kita tidak perlu menggunakan sleeping Bag?” tanya salah satu mereka. “Tidak. Semuanya harus menggunakan sleeping Bag. Kalau malam ini, kamu tidak bisa menjaga kondisi tubuhmu dengan baik, maka bagaimana kamu akan bertanggungjawab dengan tubuhmu di pendakian..” kataku dan anak-anak mengangguk.

Jam 02 malam, saya terbangun. Mendapati mereka tertidur pulas dalam sleeping bag mereka, nyaman bak lingkaran kepompong yang damai. Ridwan meringkuk, Taufik pun demikian, sementara Ayyub dan Fikar berhadap-hadapan dengan hanya memperlihatkan pucuk kepala di tengah dingin menggigit Karangan. Saya dan Ima?? Cukup aman dipojokan dijaga oleh mereka berempat. Tidurlah Nak.. Esok, atas izin-Nya kita akan mendaki di gunung milik-Nya dan atas izin-Nya, kita akan kembali dengan keselamatan dari-Nya. Aku bersujud pada-Mu ya Rabb, Engkaulah yang Maha Mengabulkan doa. Aamiin..

Subuh beranjak mendekat. Gemericik suara aliran sungai terdengar syahdu di tengah dingin yang merekat, membilas bebatuan dalam gesekan penghambaan pagi. Aku terpekur lama berbisik, “Tuhan-ku, esok aku akan bertamu kembali di salah satu menara kuasa-Mu, pasak bumi yang Engkau patok tegak di daerah ini. Tak ada perlindungan kecuali-Mu..” kembali kubangunkan Anak-anak Eternal Team, untuk menunaikan kewajiban shalatnya. Dengan sleeping bag yang masih enggan terlepas, kutarik selimut Ridwan, Taufik, Ayyub hingga Fikar untuk mengantri di depan kamar mandi. “Dingin Etta..” kata Ridwan, merajuk. “Semenjak kapan ada pendakian dan hawanya tidak dingin? Bangun sekarang atau aku ambilkan air kamar mandi nih?” tanyaku yang membuat semuanya tegak berdiri ke kamar mandi dan aku tertawa.

Tim Tiga Dewa Adventure mulai sibuk mempersiapkan segalanya. Pendakian ini, cukup ramai dengan kisaran 28 orang belum termasuk porter yang beberapa diantaranya berasal dari kampung Karangan sendiri. Zulfikar menyeduh kopi Wolu kiriman sahabatku Dyana Sadida yang diracik dengan begitu rasa fantastis oleh kak Febri Widiana Fahrian . Terimakasih untuk hadiahnya sayangku. Kopi panas, pagi hari dalam dingin dan kabut sekitar penginapan, cukup menjadi panduan sempurna agar bibirmu tak henti mengucap syukur dalam pemandangan dan nafas pemberian-Nya.

“Bu, pesan aja makanan di warung sebelah, nanti Afif yang bayar ya..” kepala Afif, dari balik pintu kamar dan aku mengajungkan jempol setuju. Ima, dengan sigap memesankan makanan untuk kami sementara aku & Fikar, mengawasi pembagian barang disetiap carrier tim Eternal agar semuanya seimbang dan tidak memberatkan satu sama lain. Bukankah pendakian adalah beban kebersamaan? Juga kebahagiaan dan tertawa adalah berbarengan bukan personalitas.

—–

Jam 08.32 Wita, sebagian besar tim pendakian sudah berkumpul dengan carrier dan trekking pole siap ditangan mereka. Pelepasan dimulai dengan acara kumpul bersama, sedikit briefing dan perkenalan leader, swipper pendakian dan diakhiri dengan doa bersama sesuai dengan kepercayaan masing-masing. Selalu saja, poin berdoa bersama, terasa sakral bagiku disetiap pendakian. Ada rasa penyerahan diri, penghambaan juga pengakuan diri, bahwa kita ini hanyalah hamba yang bersandar pada-Nya.

“Ada yang mau ngojek?” tanya Bang Afif, menawarkan pada siapapun yang berminat menikmati ojek dari Basecamp hingga pertengahan Pos 2 dengan biaya 50 ribu per-orang. Efisiensi waktu juga menjadi pertimbangan, menyimpan kekuatan lebih untuk pendakian di Pos 2 ke 3 yang terkenal lumayan ekstrem, sehingga naik ojek, bisa menjadi alternatif pilihan apik, bagi yang mau.

Aku kembali mengumpulkan Eternal Team, sebelum langkah awal pendakian kami, mengajak mereka membuat lingkaran dan membaca doa khusus agar pendakian ini, menjadi pengalaman yang diberkahi oleh-Nya.

“Buat apa kalian mendaki? Untuk apa kalian berada di sini? Apa gunanya mendaki, lelahkan diri, menembus hutan dan membuat capek saja? Tanyakan pada diri kalian. Kita disini, hilangkan rasa sombong, angkuh, merasa ingin diagungkan orang lain, ingin pujian. Kita di sini, berjalan sebagai hamba, bukan tuan. Kita berjalan mendaki, karena ingin mengenal Allah lebih dekat dari alam-Nya. Kita di sini, mengenal dzikir perjalanan. Ingat..! Hutan, batu, tanah, pohon dan semuanya berdzikir atas nama-Nya. Maka jangan sombong sebagai manusia, karena makhluk lainnya mungkin lebih beriman daripada hati kita saat ini.” Anak-anakku terdiam, mendengarkan. “Apakah semuanya sudah berwudhu?” tanyaku lagi dan mereka mengangguk, “Usahakan tetap suci selama perjalanan. Kalau ada yang batal maka berwudhulah kembali. Apabila tidak ada air maka tayammumlah. Aku berada didepan, dibelakangku Ayyub, Ima, Zulfikar, Taufik dan Ridwan. Jangan ada yang menyelisih jalan tanpa sepengetahuanku kecuali darurat. Satu lagi. Kita adalah tamu di hutan ini. Maka, jadilah tamu yang baik dan izinkan tuan rumah merasa nyaman dengan kedatangan kita bukan malah menganggu mereka. Bismillah..” doa terasa syahdu, merekat dan membungkus tubuh kami dalam doa perlindungan untuk kami semua.

—–

Basecamp Menuju Pos 1 (Buntu Kacilin Jalur Bumi)

Perjalanan pendakian dimulai jam 09.12 menit, dengan estimasi jarak tempuh kisaran 1-2 jam lamanya. Medan perjalanan hampir mirip dengan trek Pos 1 Semeru yang masih terlihat perkebunan dan ladang warga. Pohon kopi, potongan kayu terlihat di beberapa area yang digunakan warga untuk membenahi rumah mereka. aliran air sungai yang turun dari gunung, begitu sejuk dan pipa bocor sedikit membasahi jalan. Sebelah kiri pendakian, mata akan dimanjakan dengan suara air dari bebatuan serta curug kecil.

Jalanan cukup bagus menjadi akses motor warga, naik dan turun. Baik untuk mengantar pendaki yang menggunakan jasa ojek maupun warga yang akan pergi dan pulang dari kebun mereka diketinggian. Di pos ini, kami bertemu dengan anak-anak Pecinta Alam Lentera Soppeng yang dulunya hanya aku ketahui dari DM Instagram. Senang bertemu dengan kalian Lentera Soppeng.

Batas pos 1 akan terlihat di ketinggian 1.800 Mdpl, yang berada di tempat terbuka dengan tulisan terpaku di sebatang kayu ditengah tanah berundak pendek.

Pos 1 ke Pos 2 (Gua Sarung PaPak)

Jalur pendakian sudah mulai terasa setelah lepas dari Pos 1. Kami sempat bersua foto di rumah kayu milik warga sebelum menyambut kaki dengan hutan yang mulai lebat. Jurang sempit kadang di sisi kanan dan kiri, akar-akar pohon yang menonjol keluar membentuk bak tangga, yang licin setelah hujan gerimis dan embun semalam.

Beberapa jalan terlihat buntu karena jarak injakan hanya sebesar telapak kaki saja sambil berpegangan di akar pohon disamping kanan dan samping kiri terlihat tanah gembur longsoran yang lumayan dalam beberapa meter. Sesekali aku menengok ke belakang memastikan anak-anakku baik-baik saja. “Aman?” tanyaku dan serentak teriak, “Aman Etta..” balas mereka dalam tawa ditengah hujan yang semakin deras menjelang tiba di Pos 2. Estimasi perjalanan 2 jam untuk sampai di Pos 2. Lagi-lagi aliran sungai terdengar jelas menandakan dekatnya Gua Sarung PaPak. Sebuah jembatan kecil dari kayu menjadi tempat penyeberangan untuk beristirahat sejenak di dalam tudung batu gua yang menganga.

Makan siang dinikmati di Pos 2, setelah kehujanan, sebagian carrier basah dan jilbabku pun tak luput kuyup. Biasa? Iya, sangat biasa. Kehujanan, basah kuyup bahkan badai dalam pendakian adalah irama perjalanan itu sendiri. Bukankah pendakian adalah contoh kecil dari bagaimana kita menghadapi kehidupan itu sendiri??.

“Ada apa Etta?” tanya Zulfikar, melihatku mengamati gua tempat kami berteduh. Aku tidak menjawab dan hanya terdiam. Fikar tidak bertanya lagi. Meskipun sudah 6 bulan dia tidak mendaki denganku tapi nampaknya dia masih hafal dan peka dengan kondisi energiku di pendakian. “Ada apa Etta?” tanyanya lagi dan aku berbisik, “aku mendengar sesuatu, tapi harus kutanyakan dulu pada penduduk sekitar..” jawabku sambil melihat lurus ke dalam gua yang gelap namun justru hatiku melihatnya bercahaya.

“Ayo, kita tinggalkan tempat ini..” kataku cepat sebelum terbuai lebih jauh. Semua Eternal berdiri dan kami melanjutkan perjalanan meninggalkan tempat tersebut menuju Pos 3. Pos 2 adalah Pos terakhir kita menemukan air sebelum tiba di Pos istirahat yaitu Pos 5 nantinya. Jadi, isilah amunisi air sebagai bekal 3 Pos selanjutnya.

Pos 2 Menuju Pos 3 (Lintas Nase)

Dalam peta pendakian, kita akan menemukan estimasi pendakian hanya 1 jam dari Pos 2 ke Pos 3. Namun, itu estimasi kasar sebelum melihat jalur aslinya yang merupakan tanjakan curam, bebatuan ditambah akar pohon basah dan licin. Pantesan saja, saat di Basecamp Si Kolong, salah satu pendaki yang baru turun langsung mewanti-wanti pos 2 dan 3 agar kami lebih berhati-hati.

Pendakian pos 2 harus mengandalkan tali dan akar pohon karena injakan kaki berupa batu, tanah basah hampir berlumpur dan bebatuan yang kadang terperosok tiba-tiba ke bawah dalam 80 derajat kemiringan tanah. Bonus hanya kita dapatkan 2 hingga 4 meter saja dan selebihnya adalah pendakian dan tanjakan. “Inilah yang disebut benar-benar mendaki..” kata Ayyub, dibelakangku saat menyeimbangkan tali ditangannya dan beban carrier dipunggungnya. Posisi pendakian kurubah menjadi posisiku paling depan, Ayyub, Zulfikar, Ima, Taufik dan Ridwan. “Kenapa Etta?” tanya Taufik. Setelah turun baru aku jelaskan alasannya.. kataku.

Di pos ini juga, kami menemukan monumen pendaki Basuki Surahman yang meninggal karena jatuh di pendakian. Allahumma Qfirlahu.. Aamiin.

Pos 3 Menuju Pos 4 (Buntu Lebu)

Perjalanan Pos 3 menuju Pos 4 lebih bersahabat daripada pos 2 ke pos 3. Meski tenaga terkuras di pos sebelumnya, namun pendakian harus tetap berjalan ditengah gerimis yang membuat kulitku mulai berkeriput. “Etta, menggigilki?” tanya Ayyub, kawatir dan aku tersenyum. “Justru disaat menggigil, jangan biarkan badan kita terdiam. Harus bergerak supaya darah terus terpompa..” kataku tak ingin berhenti. Ima, meminta istirahat tepat ketika kami bertemu Opa, yang juga sedang istirahat bersama Bon-Bon, di tanah sedikit lapang.

“Ayo istirahat dulu..” kata Opa yang membuatku salut dari awal dengan usia 66 tahun, tapi beliau masih aktif mendaki bahkan memberikan kami amunisi semangat. Saat pamit untuk berjalan lebih dulu, mengingat tubuh kami yang basah dan harus bergerak, Opa berkata, “Semangat anak muda, Saya menyusul nanti..” kata beliau yang disambut Zulfikar dengan kata-kata, “Terimakasih Opa, semua ada masanya..” kata-kata Fikar yang singkat itu “semua ada masanya” membuatku termenung selama perjalanan. Iya. Semua ada masanya. Tentu dulu pun Opa, sekuat bahkan mungkin lebih kuat dalam pendakian ketika seusia kami. Perputaran kehidupan tak ada yang bisa menghentikan termasuk usia dan kesanggupan manusia dalam hal fisik. Apa yang kita dapatkan dalam hidup? Ketika kehidupan kita akan kembali kepada-Nya? Waktu tak dapat dihentikan dan Tuhan akan menanti kita dipenghujung jalan untuk kembali dalam rengkuhan-Nya? Apa yang kita persiapkan untuk memeluk-Nya? Semua ada masanya. Air mataku menetes. Tuhan, apakah aku akan kembali pada-Mu dalam kelayakan sebagai hamba-Mu?. Rabbi Qfirlii..

Pos 4 Menuju Pos 5 (Soloh Tama)

Perjalanan menuju Pos 5 lumayan memakan 2 jam dengan hutan dan lembab yang sangat terasa. Terdapat pemandangan unik ketika kami menemukan gerbang berletter huruf A yang konon katanya untuk masuk ke dunia lain. “Etta, apa yang dirasakan?” tanya Ayyub dan aku menggelengkan kepala. “Tidak ada, biasa saja..” kataku sambil memeluk pohon itu dan mengucapkan doa keselamatan baginya. Di depan pohon tertulis Gerbang Mahabbah. Hmm..

Kami melanjutkan perjalanan dalam gerimis yang tidak berkesudahan bercampur embun yang turun di daun pohon basah. Kudapatkan 1 gigitan pacet di tangan dan aku tersenyum mengembalikan binatang mungil itu, ke daunnya kembali. Saat dingin menguras, dan kepalaku, berdenyut. Aku terdiam sejenak berharap tidak melihat penampakan yang tidak kuinginkan. “Rabb.. apapun yang kulihat adalah kehendak-Mu. Maka Engkaulah yang menentukan kebaikan itu, bagiku..” doaku meniupkan lafadz dzikir. Didepanku hamparan hutan yang sangat indah. Cahaya putih turun dari atas berlahan dan jauh dari suasana yang kualami tadi. Lumut-lumut menggantung di pohon dan rebah di tanah bagaikan permadani yang terhampar luas, meliuk-liuk indah bak sabana. Tidak mungkin ada cahaya matahari ditengah hutan yang lebat ini?? Aku tersenyum. “Ayyub, dimanaki?” tanyaku tanpa melihat ke belakang dan terus memperhatikan pemandangan indah didepanku. “Ada di sini Etta, di belakangnya Etta..” jawabnya. “Jangan jauh dariku..” kata-kataku menekan. Kuambil HP dan mengabadikan pemandangan indah di depanku. Cekreek..

“Apa yang mereka inginkan?” tanyaku yang terdengar oleh Ayyub. “Ada apa Etta?” aku bergumam tidak jelas, “mereka memintaku istirahat di sini tapi kita harus teruskan perjalanan..” kataku. “Apakah kita tidak tunggu yang lain, Etta..” tanyanya dan aku menggeleng. “Tidak, kita jalan lebih ke depan dan menunggu di sana tapi bukan di sini,” jawabku menyeret trekking pole meski kepalaku berdenyut sakit hebat. Aku harus tersadar, batinku menjauh mencari jalan menuju Pos 5 dengan langkah lebih cepat.

POS 5 (Soloh Tama)

Hampir setengah jam perjalanan ketika dikejauhan warna tenda di Pos 5 terlihat jelas dari jalan yang kulalui. “Ayo, Pos 5 di depan..” teriakku dan berhenti menanti Eternal Team untuk bergabung dan masuk Pos 5 dengan langkah bersama. “Kenapa Etta?” tanya Fikar. Aku menggeleng sejenak, “Kepalaku sakit sekali, ada sesuatu di perjalanan tadi,” jelasku dan dia mengangguk. “Ganti baju dan istirahat Etta, saya usahakan tenda secepatnya..” kata Fikar, cukup sigap. Aku tersenyum karena dia belum melupakan apa yang harus dia lakukan ketika kondisiku tidak bisa kujelaskan dan hanya bisa dimengerti dengan orang tertentu.

“Bentangkan matras, aku mau shalat ashar..” kataku dan Fikar membentangkan satu tepat di bawah pohon 5 bercabang yang mengingatkanku dengan hutan pinus di Lapri. Selesai shalat, kembali mereka bergiliran melaksanakan Ashar bergantian. Alhamdulillah..

Tenda datang dan anak-anak langsung berusaha mendirikan satu untukku agar segera beristirahat. Badanku tidak lelah hanya kepalaku sedikit berdenyut dan harus merebahkan diri untuk istirahat. Ima, lari ke dalam tenda menyelimuti badan dan kaki dengan sleeping bag. Gerimis masih turun, belum reda juga. Fikar membuat kopi dan memberiku untuk menghangatkan tubuh. Ridwan dan taufik juga Ayyub, terdengar riuh diluar berusaha membangun tenda mereka secepat mungkin sebelum basah kuyup lagi. Namun, masih saja.. ditengah genting antara hujan dan tenda perlindungan, kelakar-kelakar mereka masih terdengar riuh menghias langit hutan dalam canda tawa yang membuatku tersenyum. Sesekali bahasa arab ala pondok mereka, untuk saling mengomentari kejadian dan membuat tawa meledak.

“istirahatlah yang cukup. Sebentar malam kita akan ke puncak. Headlamp dan lainnya jangan ada yang tertinggal..” jelasku dari balik tenda, “jangan ada yang tertidur sebelum shalat magrib dan isya. Ingat, tujuan kita mendaki bukan untuk pindah tempat tidur..” teriakku lagi dan mereka membalas dengan serentak, “Siaap Etta..” dan aku tertawa.

Malam larut. Hidangan makanan resto ala Tiga Dewa Adventure pun diantarkan ke setiap tenda. Meski makan dalam gelap karena headlamp masih meringkuk di carrier, tentu tangan tidak akan salah menyuap mulut yang lapar karena dingin Pos 5. “Nak, sudah makan?” teriakku ke tenda samping. “Sudah Etta…” balasnya. “Tidurlah.. Good Night. Sebentar malam kita summit Latimojong..” kataku. Malam merangkak, suara terdengar dari beberapa pendaki di pojok kiri masih riuh dengan lelucon kelakar mereka.

Allah.. izin kami bertamu ke puncak Gunung-Mu, atas izin-Mu dan atas Ridha-Mu..

Pos 5 Menuju Pos 6 (Buntu Latimojong)

“Summit, ayo summit yuukk..” suara teriakan dari tenda Ogizt dan Bang Canro terdengar jelas. Aku sudah terbangun sebelumnya dan kepalaku tidak sakit lagi. Bang Gondrong datang membawa gelas-gelas bubur kacang hijau sebagai sarapan menjelang subuh sebelum pendakian menuju puncak. Kunyalakan jam tanganku berangka 03.53 menit. Ima, bangun berlahan. “Nak, kalian sudah bangun?” teriakku ditengah hawa dingin pos 5 setelah hujan lebat semalam meski hanya beberapa saat. “Sudah Etta..” teriak mereka.

Pendakian menuju Pos 6 dimulai ditengah gelap bermodalkan headlamp, dingin menggigit hingga mata ngantuk dibelai angin malam. Saat berjalan di depan Eternal Team, aku sempat berkata pada mereka, “Untuk apa kita melakukan ini? Cukup jadikan sebagai pertanyaan selama perjalanan di hati kalian. Tugas hamba pada Tuannya adalah apa?” kataku melangkah ke depan, berusaha menyesuaikan nafas yang belum teratur namun sudah dihadapkan pada pendakian lagi. Adrenalin seolah terpompa kaget, menyambut hentakan dan topangan sepatu berderak diatas batu-batu gunung. Hujan semalam, membuat kayu menonjol terasa licin.

Di jalur ini, kami bebarengan dengan Imam Saputra yang luar biasa menjadi teman seperjalanan. Imam, sempat memintaku berjalan lebih dulu dan aku tersenyum, “Jalanlah duluan. Kita jalan sama-sama..” kataku.

Tiba di Pos 6, pada jam 05.13 menit. Aku memutuskan agar Etrenal Team berhenti menunaikan shalat subuh berjamaah. Nikmat luar biasa, ketika dirimu memiliki kesempatan meng-hamba pada-Nya diatas ketinggian sekian Mdpl. Surah al-Kautsar yang dibaca Zulfikar membuatku meneteskan airmata. Sebesar apalagi nikmat yang selalu Engkau hadirkan bagi kami wahai Rabb-ku?? Tak ada cukup syukur dan terimakasih pada-Mu. Selepas shalat, anak-anak terdiam sejenak seakan terpekur dalam pikirannya masing-masing. “Untuk apa mendaki?” Mereka temukan jawaban itu dalam sujud panjang subuh itu. Mendaki untuk meng-hamba pada-Nya saja. Apakah dirimu berada di lautan, daratan bahkan diketinggian seperti saat ini, tugasmu adalah sujud sebagai hamba-Nya.

Pos 6 Menuju Pos 7 (Pentuanginan)

Sebelum mencapai Pos 7 terdapat pos foto yang sangat apik. Menampilkan pegunungan yang terbentang dan berjejer bak pagar keliling daerah. Kami sempat berhenti sejenak menikmati matahari pagi yang mulai menyebar cahaya keliling gunung dalam larik putih. Indah. Allahu Akbar.. apalah kami ya Rabb, atas kuasa-Mu?. Hutan lumut terlihat dimana-mana mengurai warna orej tertimpa matahari dibalik embun menebar tetesannya.

Hawa terasa semakin dingin, sesekali kabut datang dan menghilang. Kami tiba di Pos 7 dalam kondisi dingin yang menyelimuti dengan estimasi perjalanan hingga 2 jam lamanya. Beruntung sekali, bertemu dengan Daeng Hardi, salah satu orang yang dituakan dalam pengetahuannya tentang Latimojong, sedang duduk diatas batu menjorok ke jurang bersama Isman. Aku mengenal keduanya dalam perjalanan menuju Pos 7. Beliau menceritakan tentang muasal sejarah tetua Latimojong yaitu Janggo Riri dan Indo Madiaseng. Ketika melihatku kedinginan dan berdiri menggerakkan badan, Daeng Hardi bilang, “Jalur ini, disebut juga jalur badai. Disinilah orang dulu, para Wali, orang-orang datang beribadah diatas batu ini..” tunjuknya ke tempat duduk yang dia tempati. “Saya ada pendakian 7 hari mengelilingi semua gunung ini. Kalau idi (kamu) mau ikut, dengan senang hati saya ingin menjadi teman seperjalan Ta (Anda)..” tawarnya lagi dan aku tersenyum. Aku yakin, dia tawarkan hal itu, bukan karena keahlianku yang tidak seberapa dalam pendakian tapi lebih pada supranatural yang kami rasakan dan aku menggeleng. “Aku mendaki gunung bukan karena ingin mendaki. Aku mendatangi gunung saat dia memanggilku untuk datang..” kataku dan dia mengangguk mengerti.

“Ada terasa aneh di dataran tempat kemah itu?” kataku menunjuk ke bawah dan dia tersenyum tanpa menjelaskan dan aku cukup paham. Saat melewati dataran bawah, Daeng Hardy berteriak, “Dek, hati-hati di pendakian batu..” katanya, “Kenapa?” tanyaku balik dan dia bilang, “Nanti idi (kamu) akan temukan jawabannya sendiri. Tidak usah pakai Trekking Pole untuk melewati tebing batu didepan, gunakan tanganmu sendiri untuk lebih yakin..” tambahnya dan aku berterimakasih atas sarannya serta pamit melanjutkan perjalanan.

Pos 7 Menuju Pos 8 (Puncak Rante Mario) 3478 Mdpl

Benar kata Daeng Hardi, pendakian tebing didepan mata bukanlah jalur mainan. Beberapa kali kakiku melesat ke bawah yang untungnya tangan cukup kuat bergelayut di webbing di tepi jurang yang tertambat di batu dan pohon. Imam, telah menunggu diatas lebih dulu dan sesekali membantu menarik keatas untuk memudahkan kakiku menjejak di batu tebing. “Kita break Imam, sambil menunggu yang lain melewati tebing ini..” kataku padanya dan dia duduk kembali. Satu persatu team melewati rintangan dalam nafas ngos-ngosan. Sedikit istirahat dan melanjutkan perjalanan. Teringat lagi kata-kata Daeng Hardi, “Kalau ketemu danau, ambil jalur kiri..” aku mulai fokus mencari danau yang dimaksud dan merasakan sesuatu yang berbeda saat memasuki kawasan itu. Aku menengok ke belakang dan Zulfikar belum ada di sana.

Ayyub, berjalan tepat dibelakangku. “Ada apa Etta?” tanyanya. Aku sadar, dia melihatku sedikit aneh dengan gerakan tubuhku yang tidak biasa untuk duduk, meraih batu, mengenggam dan.. “Apa yang kamu rasakan?” tanyaku balik pada Ayyub. “Sepi..” katanya. “Bukan.. sebaliknya, tempat ini cukup ramai..” ujarku lirih. “Etta, bolehkah saya berfoto disitu?” tanyanya lagi menunjuk satu arah dan aku menggelengkan kepala. “Tidak.. ayo kita pergi dan menunggu anak-anak lain di jalanan depan..” kataku beranjak berdiri dan Ayyub, mengikutiku dari belakang. Saat tanjakan menuju keatas, aku kembali menengok tempat itu lagi. Allah, hanya akan menunjukkan apa yang harus aku lihat dalam kebaikan itu, dan Dia Maha Melindungi, ucapku berlalu pergi.

Setelah melewati perjalanan panjang kisaran 2 jam, kami tiba diatas Puncak Rante Mario Gunung Latimojong dan disambut pendaki lainnya yang lebih dahulu datang disana. Alhamdulillah.. Rabb, tak ada kaki yang sanggup datang ke sini, tanpa izin dan ingin-Mu. Syukur atas-Mu.. ucapku lirih, meminta Eternal Team membaca shalawat atas keberkahan tiba di puncak ini.

——

Turun dari puncak, perjalanan terasa lebih ringan. Ada yang tidak biasa bagiku karena setiap mata memandang ke depan dari pohon, batu, warna tanah, bau tanah hingga suasana, aku selalu tertarik merasakan kehadiran Gunung Bawakaraeng disana. “Ada apa Etta?” tanya Ayyub. “Entah kenapa, aku mencium bau Bawakaraeng di sini. Tanah, batu, pohon.. Kenapa aku merasakan seperti berada di dekat trengulasi Bawakaraeng? Ketika memasuki hutan tadi, aku merasa melihat pemandangan itu lagi bagaikan dalam mimpi. Kenapa semakin ke bawah terasa berada di Pos 8 Bawakaraeng?” tanyaku berhenti sejenak dan terdiam lama.”Mungkin, Etta, merindukan Bawakaraeng..” kata Ayyub dan aku hanya mengangguk. aku di sini di gunung Latimojong tapi kenapa perasaan ku berada di Gunung Bawakaraeng??.

Di Pos 5 tempat tenda terpasang, kami beristirahat lebih untuk mengumpulkan energi menghadapi turunan 5 Pos menuju basecamp esok hari. Bercengkrama dan bercerita panjang dengan para porter Dusun Karangan yang menceritakan banyak kisah pendakian dan sejarah. Sambil menunggu makan siang bersama anak Lentera Soppeng, suguhan mereka cukup apik yang dinikmati oleh porter dan anak pendaki gabungan. Indah. Persaudaraan itu tanpa harus melihat status diri, derajat, siapa dan mengapa karena esensi manusia sudah cukup bagi kita untuk memanusiakan lainnya.

Masih bermalam lagi di Pos 5, memberikan waktu bagi semua gabungan pendaki untuk saling bercerita, lebih mengenal, bertukar pengalaman hingga isu-isu politik dan budaya. “Jangan lupa shalat semua sebelum tidur Nak..” teriakku dan anak-anak mengiyakan, berdiri bergiliran untuk melaksanakan shalat isya.

Jam 22.13 menit, aku terbangun dengan guntur dan kilat yang menggelegar. Sejenak terdiam, duduk, dan berpikir, akankah malam ini, turun hujan deras??. Lagi-lagi, seakan ditodong dengan perjanjian yang sama disetiap gunung yang kudatangi untuk mengucapkan kata-kata itu kembali. “Ya Allah, izinkan aku berdiri dibawah langitmu di seperempat malam ini dalam pujian akan-Mu. Kabulkanlah..” aku berbaring kembali dan berharap tertidur sejenak.

Jam-ku tepat diangka 02.35 menit. Kurekatkan sleeping bag, karena hawa yang semakin dingin serta embun bak gerimis diluar tenda. “Mau kemana Etta..” tanya Ima, disampingku. “Aku sudah berjanji untuk tahajjud malam ini..” kataku, “tahajjud di tenda saja, dingin sekali diluar..” katanya lagi. “Tidak. Semalam aku mengatakan akan berdiri dibawah langit-Nya, apabila tidak turun hujan..” kusingkirkan sleeping bag, menyingkap tenda dan mencari air untuk berwudhu.

Allahu Akbar.. Apa yang kuinginkan dari pendakian ini? Dalam setiap rukuk dan sujudku, aku hanyalah tanah yang Engkau ciptakan, tidak lebih dgn tanah yang kuinjak dalam pendakian ini. Aku apa tanpa-Mu, wahai Tuhan-ku? Aku siapa tanpa-Mu? Kekuatan, kesombongan, keangkuhan, keinginan dihormati, dimuliakan oleh orang lain dalam pujian?? Apakah semua itu, ketika tubuh, badan kami hanya pinjaman dari-Mu. Ketika nafas kami hanya milik-Mu. Aku tak memiliki apa-apa karena semua milik-Mu. Apa dayaku tanpa-Mu?. Ya Allah, jangan abaikan aku karena Engkaulah Tuan dari hamba yang meminta ini. Ya Rabb, jangan tinggalkan aku, karena Engkaulah Raja dari sahaya yang tak memiliki apa-apa ini, selain tangisan mengiba kasih sayang-Mu. Ampunilah aku, sebagaimana Engkau memeluk orang-orang terkasih-Mu. Allahumma shalli ala Muhammad waala ahli Muhammad.

—-

Subuh merangkak. Eternal Team, terbangun dan melakukan shalat jamaah diluar ditenda. Melihat porter yang mengelilingi perapian membuatku mendekat dan duduk bersama mereka dalam hangat pagi secangkir kopi. “Duduk senior..” teriak Imran. Dia ikut-ikutan memanggil senior setelah beberapa orang mengucapkan kata-kata itu. aku tersenyum. Anak muda yang cukup ceria dalam melakukan apa yang harus dia kerjakan. Karmin, menghalau dingin dengan sarung di badannya. “Aku boleh bertanya nggak?” dan hampir semua mengatakan iya.

Mulailah kuceritakan apa yang kurasakan di pos 7 menuju puncak, keramaian daerah itu. awalnya mereka saling memandang dan mengiyakan kalau dulu, tempat itu adalah sebuah perkampungan yang ramai. Bergulirlah cerita dan kutemukan jawaban kenapa tempat itu, selalu menarikku untuk mendekat ke satu arah. Pos cahaya yang turun kemarin dalam hamparan sabana yang meliuk indah dipandanganku kemarin pun tak luput kutanyakan. “Itu bagaikan singgasana besar..” ujarku. “Jarang ada yang ditampakkan itu. Kalau pun ibu melihatnya, mungkin ibu, dipilih untuk itu..” kata salah satu bapak dan aku terdiam. “Adakah sesuatu didalam gua yang kulihat kemarin?” tanyaku lagi dan mulailah cerita mereka tentang beberapa penampakan yang beberapakali terjadi di daerah situ. “Aku suka gua itu. terlihat gelap dari luar tapi hatiku merasakan ketenangan ketika melihat ke dalam,” jelasku dan mereka menambahkan bahwa terdapat tempat yang dipercaya orang sebagai mushalla Syekh Yusuf.

“Bu, doa apa yang dibaca semalam sampai beberapa jam menjelang subuh?” tanya seseorang dari mereka. Aku menghela nafas panjang. “Dzikir untuk Pencipta Alam semesta. Kami datang ke gunung, menikmati batu, pohon, tanah hingga nikmat lainnya yang luar biasa. Apa yang kita lihat benda mati, sebenarnya hidup dan berdzikir pada-Nya. Pohon, gunung, batu, tanah, lumut, tumbuhan, dedaunan, burung-burung dan segala sesuatu di hutan ini, berdzikir atas nama-Nya. Aku hanya membacakan ayat-ayat-Nya, dzikir pada-Nya sebagai hadiah atas sambutan mereka untuk kami. Sebagai tamu, hanya dzikir ini yang kuniatkan sebagai hadiah pada tuan rumah penghuni hutan dan gunung ini. Sebagai hamba, kita semua dan mereka adalah sama dihadapan Allah.

“Pagi beranjak naik. Beberapa anggota team sudah mulai turun menuju basecamp. “Etta, kita turun juga?” tanya Ridwan dan Taufik. Kita bantu porter dulu baru turun. “Kumpulkan sampah dan lipat tenda, baru kita turun setelah itu..” kataku dan mereka mulai bergerak membantu porter untuk mempercepat pekerjaan agar kami bisa turun bersama-sama. Alhamdulillah, tenda terpacking semua. Sampah pun dikumpulkan dan kami pamit turun menunggu dibawah.

Turun menuju basecamp tidaklah lama tapi tetap saja menguras tenaga dan kekuatan lutut karena turunan yang curam, basah dan licin. Aku terjatuh hingga 2x akibat jempol kaki kanan dan kiri yang bengkak, luka sehingga menjadi lebih nyeri dan sakit saat menahan berat badan di turunan pendakian. Lumayan meringis.

Tiba di Pos 2 kami istirahat sejenak dan tiba-tiba aku merasa harus segera pergi dari tempat itu. “Etta, istirahat dulu..” kata Zulfikar. Aku diam tidak berbicara dan terus mendaki meninggalkan tempat itu. Ayyub, cukup tanggap mengikutiku cepat dari belakang begitu juga yang lainnya. “Ada apa?” itu pertanyaan mereka yang aku diamkan. Tiba diatas tanjakan, aku meminta Fikar mengambil air dari sungai Pos 2 sebagai bekal hingga Basecamp nanti.

Jam 13.15 Wita, kami tiba di basecamp dan sempat lomba lari menuruni kaki gunung bersama Imran. Sepanjang jalan kami bercerita banyak dari dusun Karangan hingga tempat-tempat lainnya dan kegiatan dusun yang dilakukan. Eternal Team, segera melakukan shalat Dhuhur berjamaah dan sujud syukur atas keberkahan dan keselamatan perjalanan kami selama pendakian Gunung Latimojong. Alhamdulillah.

—–

Ada yang bertanya, mana foto pemandangan permadani lumut yang bercahaya dan kuambil di hutan?? Jawabannya, foto tersebut tidak ada di kamera hp-ku maupun di kamera Hp Team Eternal yang lain. Kemana? Itulah yang masih tanda tanya. Foto yang kuambil setelahnya, semua ada dan tersave di kamera, tapi foto yang kumaksud, tidak meninggalkan jejak sama sekali. Teringat dengan foto yang kuambil di Ranu Kumbolo, Semeru dan juga tidak ada di kameraku. Hmm.. aku tersenyum saja. Mungkin belum saatnya ditampakkan.

Terimakasih saya ucapkan kepada semua Team Tiga Dewa Adventure. Terimakasih untuk semua pendaki dan pecinta alam Tim tiga Dewa dari berbagai daerah, senang membersamai dan berjumpa dengan orang-orang hebat. Terimakasih team hebat Porter yang luar biasa dalam canda dan tawa secangkir kopi, indomie pagi hari dan nasi setengah matangnya.

Terimakasih orangtua kami yang luar biasa memberikan teladan, OPA dalam jiwa semangat dan welas asih, Om Ono yang selalu menanyakan keadaan kami dan Om Edo yang memberikanku masukan untuk pengembangan Eternal Team ke depan. Terimakasih untuk Ustd. Hartati dan Ustd. Fadilah Janwar serta keluarga atas sambutannya. Terimakasih untuk Ustd. Nurhalidasia atas undangan makan malamnya.

Terimakasih untuk anak-anakku Eternal Adventure Team yang cukup solid, taat aturan dan persyaratan pendakian terutama mengenai shalat 5 waktu. Aku tidak pernah menyesal untuk berjalan bersama kalian pada gunung yang berbeda di masa mendatang. Bangga memiliki kalian semua dalam perjalanan ini. Ya Rabb, berkahilah kami dalam naungan kasih sayang-Mu yang tak berkesudahan. Aamiin.

—–

Kenangan Perjalanan Pendakian Gunung Latimojong Puncak Rante Mario teruntuk Ridwan Fauzan, Taufik Arfah, Zulfikar, Alimatunnisa El-Said, Solahuddin Al-Ayyubi.

Tulisan ini ASLI di sadur dari perjalanan pribadi “Etta Sa’diah Lanre Said”

Categories
Instagram

Share |