Ada berapa banyak orang di dunia ini yang hidupnya dipenuhi rasa kegelisahan dalam hatinya dan kebingungan yang tak berujung hanya karena persepsi yang salah dalam memaknai kebahagiaan. Sebenarnya apa itu kebahagian? Megapa banyak orang sulit untuk meraihnya? Apakah meraka tidak bisa menemukan kebahagiaan? Atau mereka menemukan hal yang mirip dengan kebahagiaan tetapi sesungguhnya bukan kebahagiaan?

Pertanyaan ini sudah muncul sejak berabad-abad yang lalu dan misteri kebahagiaan ini masih saja belum menemukan jawaban yang tuntas. Namun jika kita melihat anak-anak Bajo [Anavado] pada gambar diatas kita dapat memiliki gambaran ternyata kebahagiaan itu hanya dapat dirasakan oleh orang-orang yang pandai bersyukur dan tabah dengan segala sesuatu yang terjadi pada dirinya. Terpancar keceriaan dalam wajah mereka kendati hidup dalam segala keterbatasan.

Bahwa jika sesorang telah hidup sebagaimana mestinya dan selalu bersyukur terhadap apa yang dia alami dan nikmati maka itulah esensi kebahagiaan.


Anavado yang sedang bermain saat air laut sedang surut, mereka tak ditemani oleh orang-orang dewasa ataupun baby sitter seperti halnya anak-anak yang hidup diperkotaan. Tak ada kekuatiran menghinggapi orang tua anak-anak itu. Anavado itu terlihat asyik bermain dan bercengkrama tanpa ditemani seperangkat nintendo atau robot-robot plastik. Mereka itu hanyalah memainkan pasir-pasir yang ada dihadapan mereka. Kebahagiaan hakiki disertai dengan senyuman ceria terpancar dari wajah anak-anak Vado saat bermain bersama. Tidak ada konflik ataupun pertengkaran dalam bermain, mereka bersatu dalam canda. Selingan tawa dan senyum kerap terjadi dari wajah anavado ini yang sejatinya mereka sebagai penerus generasi masa depan Kabaena.


Sebenarnya masa kanak-kanak merupakan masa dimana ketergantungan pada orang tua. Tetapi bagi Anavado di Kabaena secara praktis sudah dilewati diganti dengan mulai terbentuknya kemandirian mereka sejak usia 2 tahun. Kemandiran Anavado ini sangat dipengaruhi oleh pola asuh orang tua, khususnya ibu. Karena mereka dibiarkan bermain sendiri maka mereka menjadi lebih mudah mendapatkan teman dan mampu untuk bersikap mandiri dan bersosialisasi. Anavado setelah bermain pasir seharian, mereka anak pulang kerumah sendirian, menaiki anak tangga kayu yang lumayan tinggi tanpa harus takut terjatuh. Tak terlihat orang tua mereka yang berniat membantu. Anavado itu ketika lapar tak akan meminta uang untuk membeli sepotong roti tetapi mereka akan kedapur dan mencari apa yang ada, dan tatkala menemukan Karamea atau Matamoravu maka itulah yang akan disantapnya ditemani sekerat Nivuai tanpa keluh kesah.

Cara hidup Anavado ini sesungguhnya mencerminkan bahwa jiwa manusia itu suci pada fitrahnya, maka jika kita mengejar kebahagiaan sudah pasti muncul rasa gelisah, tidak tenang dan perasaan galau. Berbeda dengan sesorang yang hidup tanpa beban tentu senantiasa merasa damai dan tenang seperti halnya Anavado itu.

Dan batas kebahagiaan manusia itu adalah kebersahajaan, ketika seorang manusia keluar dari rambu-rambu itu maka hatinya akan gelisah berkepanjangan.

19 Responses to “Potret Anavado Kabaena”

  • Syamsuddin:

    secara gizi, anak2 bajo ini cukup memadai karena mereka mengkonsumsi ikan. Dibutuhkan perhatian pemerintah setempat untuk lebih lagi memotivasi mereka agar tetap bersekolah dan diberikan bea siswa

  • Yo vado kipoiya vavo vita na molangu ka asi wkwkwk

    • Miss. Jouzu:

      Ntehapai nde’e kito’orisi molangu?

      • Rea Molea:

        Ngana kita kito peolea bangka na molangu bolontahi tapi kalau yo vado nda’a molangu tapi kalau mereka tinggal di daratan justru pada molangu

  • Ketegaran suku bajo dalam mengatasi ombak saat memancing patut kita apresiasi.

  • lelly:

    salut orang Bajo ini, hidup dalam keterisolasian namun tetap enjoy menjalani kehidupan mereka yang sangat minim teknologi. patut kita mengambil hikmah darinya agar kita senantiasa bersyukur akan karunia-Nya yang dilimpahkan pada kita

    • Miss. Jouzu:

      Sekarang sudah tidak minim teknologi. Mreka sudah sadar akan pentingnya mengikuti perkembangan zaman

  • Karkun Hapokisadara:

    Khusus di Pulau Kobaena, tanpa Vado (suku Bajo) Masyarakat akn kesulitan mengkonsumsi Ikan

  • venita65:

    Potret anavado. Sisi lain dari kehidupan masyarakat kabaena yang seyogyanya jadi pemicu generasi mudanya utk selalu berpikir mandiri

  • rhina:

    Yang jelas, kebahagiaan itu tak dapat dibeli dengan mata uang

    • Miss. Jouzu:

      Kua to’umo aico sahinaa

  • Nizham:

    Termasuk yang pake helm itu anavado ya :)

  • Kamaluddin:

    Kebahagiaan itu memang hanya dapat diperoleh dengan mensyukuri apa yang kita miliki

    • Miss. Jouzu:

      Betulllll skali. Karena dgn bersyukur hati akan terasa lapang

  • vivi:

    Bukan hanya mandiri anak-anak vado yang ada di Kabaena tetapi juga dapat diandalkan orang tua mereka untuk mencari nafkah. Sayangnya mereka jarang yang menempuh pendidikan hingga tamat SMP

    • Miss. Jouzu:

      Eitssssss jangan keliru sis, sekarang ini suku Bajo sdh ada yg menduduki bangku perkuliahan malah. Bahkan sdh ada beberapa yg jadi PNS

  • mustafa_karim:

    Subhanallah. Anak itu berani naik tangga sendirian tanpa rasa takut.

    • Miss. Jouzu:

      Iya mereka dididik mandiri sejak dini

Leave a Reply

Instagram

Ketik Email Diceena:

Share |