Teratai di Umala

Dua puluh tahun lalu, kita masih sering melihat anak-anak yang bermain di tepi pantai di antara rimbunan bakau Beropa. Bermacam-macam permainan anavado itu lakukan, ada yang main pasir, ada yang sekedar mengumpulkan umang-umang untuk memancing, ada juga yang mencari kalantue dan bibia.

Saat senja tiba, suasana menjadi lebih ramai lagi karena para nelayan telah pulang dan anak-anak pantai Beropa itu bergegas menyambut orang tua mereka dan membantu membawakan hasil tangkapan yang melimpah . Keceriaan selalu tercipta karena pantai tempat bermain begitu luas dan alami. Ini adalah anugerah terindah dari sang Maha Kuasa, Menikmati indahnya pemandangan matahari sumoo arua hai pada oleo adalah saat yang menyenangkan. Karena pada saat itu kita bisa melihat warna keemasan petang yang senantiasa menambat kalbu pada mereka yang memahami keindahan. Ialah pantai Beropa yang dahulunya merupakan pilihan alternatif bagi para tora mongura menghabiskan sisa senja selain di bukit Teletabis.


Sunset di Pantai Beropa

Tentu bagi warga Beropa kala itu merupakan rumah kedua, tempat janjian berkumpul untuk bermain bola plastik ketika air laut sedang surut, atau bahkan tempat yang menjadi saksi pertemanan atau bahkan tempat mengadu kekuatan anadalo seperti: mebiti. Dan jika haus, ada puluhan pohon kelapa yg berjejer disepanjang pantai menanti (maka kua ki toOri momone nii). Masa kanak-kanak masyarakat sekitar Beropa sangat indah tentunya.


Bekas hutan bakau di Pantai Beropa

Sekarang, pantai indah nan luas itu sudah berubah jadi lumpur, riak-riak ombak yang menepi pantai tak jernih lagi. Rimbunan pohon tongke sudah tak terlihat bahkan akar-akarnya pun lenyap. Area bermain anavado atau tempat mengumpulkan umang-umang sudah berubah menjadi tambak-tambak kosong tanpa ikan. Anak-anak pantai itu jadi jarang bermain bersama, pulang sekolah langsung tidur siang, pulang mengaji langsung sibuk nonton di rumah masing-masing. Ketika liburan, pagi hari mereka harus mencari tempat bermain baru, yaitu di kolong rumah masing-masing.


Alih fungsi hutan bakau menjadi empang kosong

Pergeseran semakin nampak ketika generasi baru bermunculan, mereka jadi lebih apatis, tak peduli lingkungan, bahkan dengan teman sekampung tidak saling mengenal. Jika diceritakan masa dulu dan dibandingkan masa kini banyak sekali hal-hal yang terjadi pasca hilangnya pantai indah itu.

Semua ini menggambarkan bahwa hanya karena hilangnya ruang sosial dalam suatu area, menyebabkan perubahan sikap dalam perilaku orang-orang yang berada pada area tersebut. Dampak yang diakibatkan kadang tidak disadari, bahkan oleh warga sendiri. Hal inilah yang harusnya disadari bersama, bahwa Beropa yang dahulu bernama Poropa itu masih berupa hutan bakau, masih indah dipandang. Tempat warga Sikeli menghabiskan waktu dengan mebolu-bolu jika air pasang. Garis pantainya membentang dari Tanjung Perak sampai di Umala. Air lautnya berbuih jika menepi pantai, butir pasirnya halus. Dengan garis pantai yang luas, adalah tempat menikmati sunset yang berwarna merah kekuningan.

Penulis berharap, tulisan ini dapat dibaca salahsatu pengurus desa atau kecamatan Kabaena Barat bahwa kerusakan hutan bakau di sepanjang pantai Beropa diakibatkan kurangnya kesadaran masyarakat masa kini. Alih fungsi hutan bakau seluas puluhan hektar menjadi empang mandul (tak mempunyai ikan) terjadi diakibatkan oleh warga sendiri dan bahkan warga pendatang juga melakukannya, mungkin hal ini akibat ketidaktahuan warga. Sehingga penyuluhan melalui kader-kader warga kepemudaan seperti Karang Taruna perlu digalakkan lagi.

Ini adalah pemikiran sederhana, tentu hanya dapat terwujud jika ada aksi. Semoga senyum anavado yang dulu pudar dapat tersungging kembali.

Niburino Fatma Jouzu

24 Responses to “Pudarnya Senyuman Anavado”

  • mustafa_karim:

    kisainyaa kita da angkatako kemajuan tokotua, inaimo penda. Osie meloo moburi tentang problema yang ada di kabaena dan saya yakin ini semua akan menjadi acuan pembaharuan bagi para ka ovose.

  • Maharisa:

    seharusnya sejak dulu ada pelarangan penebangan bakau di kawasan beropa dan umala. Sekarang sudah terlambat. Dan keadaan ini saya kira akan makin parah dikarenakan apatisme para pemangku jabatan di Kabaena.

  • Gali Al Gazali:

    Kerusakan pantai kabaena sebenarnya sudah 40%, karangnya sdh tdk bisa di banggakan lagi, tempat mancing sdh sangat jauh dari pantai, pengeboman ikan hampir tiap hari ada letusan, petugas tidak dapat berbuat apa-apa. Beropa hanya sebagian kecil gambaran kerusakan.

    • Miss. Jouzu:

      Betuuuuuul sekali

    • ab_nbx:

      banyaknya pengambilan batu karang tuk buat rumah khususnya d sikeli mmg merusak biota laut yg ada

  • Isfahan:

    Nemu website ini di mbah gugel. Pengelola web ini lumayan kreatif, jarang ada artikel yang membahas panorama alam Kabaena yang dapat kita temukan, rata2 yang dibahas soal kerusakan akibat tambang. Coba sekali2 mengangkat topik Gua yang ada di Kabaena. Batuburi sudah ada artikelnya namun seingat saya ada banyak sekali gua2 di pulau Kabaena yang salahsatunya Gua Pu’u Vatu yang juga dikenal dengan Gua Lahumusi. Konon di Gua ini terdapat kerangka manusia sepanjang 4 meter. Ini kayaknya topik menarik jika dibuatkan artikel.

    Salam untuk semua. Salam Tokotua

    • Miss. Jouzu:

      Di Bagian mana itu Gua. Insya Allah kontributor akan mencarinya jika ditau tempatnya.

      • Isfahan:

        Lokasi gua Pu’u Vatu tak jauh dari kawasan Pu’u Po Kuni. saya kira semua orang teomokole tau tempat ini. Lebih tepatnya lokasi tersebut dekat ponahu golano Lahumusi [orang rahantari] makanya gua ini disebut juga gua Lahumusi. Sekitar tahun 1975 saya pernah masuk gua ini saat itu seluruh anak SD Teomokole kelas 5 dan kelas 6 ketempat tersebut dikomandoi oleh pak guru Tahir [tangguru tahere] mungkin sekarang sudah almarhum. Gua ini bagus juga dijadikan artikel untuk mengimbangi isi website ini yang didominasi berita lingkungan

  • Syaf:

    Apalagi???

  • Muniati:

    Pohon teratainya ditanam atau tumbuh sendiri?

    Sangat sulit mendidik masyarakat agar memelihara lingkungan pantai. Ketiadaan bakau di Beropa sudah sangat memprihatinkan dan butuh waktu lama untuk pemulihannya.

    • Miss. Jouzu:

      Teratainya tumbuh secara alami/ tumbuh sendiri

      • ab_nbx:

        di kabaena memang serba alami ;D

  • LULA:

    Bukan hanya bakau yang dapat ditanam di Beropa demi menghadang abrasi tetapi juga pohon cemara dapat menjadi alternatif kedua untuk ditanam karena selain mudah tumbuh juga tak sulit mendapatkan bibitnya

    • Miss. Jouzu:

      Ihapamo dahano bibitno, nahinasi bara nta gora aku kiku tii mombula arua hai Beropa

      • LULA:

        Tentu dalam hal penanaman pohon baik bakau maupun cemara harus melibatkan pihak terkait. Dahoo nta neeko menyerobot lahan secara liar kalo berinisiatif nanam sendiri. Bibit cemara sangat banyak antara pongkalaero dan wulu

        • Miss. Jouzu:

          Ihapa dahano aico po iyaha damonehako Wulu?nai-nai ndeE da toOrio aico dahano

          • LULA:

            Wulu berada didaratan Kabaena, bersebelahan dengan Pulau Talaga Kecil dengan jarak 15 menit naik katinting dan 1 jam dari Pongkalaero. Sepanjang pantai Wulu ditumbuhi pohon cemara yang merupakan penyangga bibir pantai dari abrasi

        • Miss. Jouzu:

          Sejujur-jujurnya valiU vakokita hah. Sangat susah menggandeng pihak terkait ataupun masyarakat untuk berbenah diri melibatkan mereka dalam aktivitas penanaman pohon apa saja. Karena pola pikir mereka yah…..gitu deh
          Kemarin saja, waktu kegiatan penanaman pohon di sekita mata eE molo, dohomo susah dijelaskan ke warga. Yah mereka anggap bahwa kita menyerebot padahal tidak. Sudah dijelaskan bahwa ini adalah bagian dari program pemerintah untuk melestarikan hutan.
          Hapaaako doho ovose coie pohon. Nonda podoo ira. Padahal aico arosi jelaskan kanahi bukan untuk kita, tapi untuk mereka hehehehehe

      • LULA:

        Sulit bukan berarti tak bisa. Nyabaa. Untuk melakukan tindakan sosial dimanapun di wilayah indonesia. Pengkomunikasian akan hal itu harus punya trik tersendiri dan yg mengajak tentu adalah orang2 capable. Orang2 yang punya kredibilitas soal lingkungan. Saya melihat gagalnya konservasi bakau karena minimnya dana sosial yg didapat oleh penggerak. Dan sebenarnya bukan hal yang sulit jika serius untuk itu. Buatlah proposal dan ajukan pada pemerintah daerah dan juga pada yayasan lingkungan. Tentu yg melakukan semua ini adalah kelompok masyarakat bukan individu atau LSM lokal

        • Miss. Jouzu:

          Yayayayaya.
          Poveukitamo LSM

  • kamal:

    Mantap artikelnya. Keberadaan hutan bakau di Beropa tentu akan memiliki peran dan fungsi strategis sebagai penyangga kehidupan biota laut. Pohon bakau merupakan salah satu ekosistem langka, yang patut kita konservasi.

  • Syamsuddin A:

    Rusaknya hutan mengrove ini setara dengan emisi yang dikeluarkan ratusan mobil. Sayangnya, angka yang luarbiasa dan mengejutkan ini tidak disadari oleh banyak orang. Padahal, dampak dari pencemaran karbondioksida ini demikian hebatnya. Mangrove, tak hanya memberikan hasil berupa kayu dan ikan-ikan. Namun keberadaannya kita tahu amat penting bagi fungsi ekologi dan fungsi lainnya. Seperti : menyerap karbondioksida, menyediakan saluran air yang bisa dilayari dan mencegah pengikisan pantai oleh gelombang laut

  • vonuaku:

    Benar sekali. Perlu ada penggalakan lagi organisasi kepemudaan semacam Karang taruna, PKK, demi hutan bakau di Beropa yang kini telah hilang

Leave a Reply

Instagram

Ketik Email Diceena:

Share |